Berjumpa Kristus Ya Mestinya Happy

Cerita Zakheus kiranya sudah familiar tetapi barangkali orang terlalu mainstream dengan inspirasi dari cerita itu, atau malah bahkan tidak menimba inspirasi sama sekali karena ceritanya terlalu sederhana: karena pendek, Zakheus yang kepo mengenai Yesus itu berusaha mencari tempat yang lebih tinggi supaya bisa melihat orang yang disebut Yesus. Happy ending.

Yesus blusukan di Yerikho tetap dengan fokus perhatian pada orang-orang yang ada di sana. Zakheus, bos pemungut cukai, maunya melihat Yesus tetapi malah Yesus lebih dulu memanggilnya. Yesus memintanya turun tengah Zakheus memanjat pohon dan menyatakan dirinya untuk makan di rumah Zakheus. Terjadilah sesuai dengan yang dikatakan Yesus.

Masih ingat kisah lain mengenai pemuda kaya yang datang kepada Yesus untuk menimba kebijaksanaan demi masuk Kerajaan Surga? Ia berjumpa dengan Yesus dan pergi dengan sedih hati! Kenapa? Karena ia tahu bahwa ia kaya, hartanya banyak! Tetapi, kenapa reaksi Zakheus berbeda dengan reaksi pemuda kaya itu?

Mungkin bacaan pertama perlu dipertimbangkan: kritik terhadap dua komunitas di Sardis dan Laodikia. Jemaat di Sardis, mereka adalah orang-orang sukses nan kaya, merasa diri hidup dan cukup dengan kekayaan material yang mereka punya. Jemaat di Laodikia, mereka ini kelompok orang yang hangat-hangat tahi ayam.

Zakheus sadar bahwa ia sukses dan kaya, tetapi ia begitu kepo dengan sosok Yesus dan perjumpaan dengan Yesus menyadarkan dirinya bahwa kekayaannya itu bukan segala-galanya, bahkan mungkin diperolehnya dengan cara memeras orang lain. Kesadaran diri setelah berjumpa dengan Yesus itu menggugahnya untuk bertobat, membuat bunga-bunga di hatinya berbuah kemurahan hati, tapi tertata. Sudah mainstream kan orang yang lagi happy berat lalu bernazar super baik, besok hari sudah seperti tahi ayam tadi.

Zakheus tidak berkata secara bombastis, “Akan kuserahkan semua kekayaanku kepada orang miskin!” Ia tetap realistis: separuh akan diberikannya kepada orang miskin. Tidak hanya itu, kalau terbukti ia memeras orang, orang itu akan diberinya empat kali lipat perasannya. Setelah perjumpaan dengan Kristus itu, Zakheus mengelola hartanya sedemikian rupa sehingga ia tetap bisa hidup bahkan dengan proyek membantu orang miskin dan korban ketidakadilan.

Menariknya, pengelolaan itu dilakukan dengan gembira hati karena merupakan buah perjumpaan dengan Kristus, bukan prosedur pemenuhan kewajiban agama atau hukum negara.


SELASA BIASA XXXIII
18 November 2014

Why 3,1-6.14-22
Luk 19,1-10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s