Jangan Mentang-mentang Kristen Ya!

Orang Kristen, baik yang Katolik maupun yang Protestan, kerap menegaskan bahwa hidupnya sudah diselamatkan dari dosa karena pembaptisan; hidup ini bukan lagi untuk mencari pahala keselamatan, melainkan untuk mewujudkan keselamatan itu. Masuk akal sih, tapi trus gimana yang gak baptis? Selamat juga gak? Kalau mereka selamat tanpa baptisan, apa gunanya baptisan dong? Kalau gak selamat tanpa baptisan, secara subsadar orang jatuh pada kesombongan rohani dan mengklaim bahwa agamanya lebih baik dari agama lain.

Persoalan itu jadi njelimet jika orang melulu berpikir linear. Memang upacara baptis dibuat pada tanggal tertentu tetapi baptisan sendiri mengandaikan iman; padahal, iman itu bersifat dinamis, tidak linear (tidak semakin lama baptis semakin dalam imannya). Jadi, keselamatan tetap bergantung pada sinkronisasi hidup seseorang dengan pengikraran iman pada saat upacara baptisan; bukan asal sudah baptis njuk selamat gitu aja (bagaimanapun hidup sesudah baptis itu)! Enak banget!

Hari ini disodorkan kisah yang mirip dengan perumpamaan tentang talenta pada hari Minggu lalu: sepuluh hamba diberi masing-masing satu mina sementara sang tuan pergi untuk pelantikannya sebagai gubernur DKI eh… raja. Ada yang mengelola jadi sepuluh mina, lima mina, dan terakhir tidak menghasilkan apa-apa. Bersama ayat 11, ayat 28 menjadi penting sebagai kerangka pemaknaan perumpamaan ini.

Saat itu baik murid Yesus maupun orang Farisi yakin bahwa Kerajaan Allah itu sudah akan segera tiba, tetapi keduanya memiliki asumsi yang keliru. Orang Farisi tidak memercayai Yesus dan meyakini bahwa Kerajaan Allah pastilah dibawa oleh orang lain. Sementara murid Yesus mengira Yesuslah pembawa Kerajaan Allah itu dan ia tak lama lagi akan jadi gubernur eh…bukan, pokoknya pemimpin politik, dan mereka akan ikut dapat jabatan di situ!

Kesesatan paham itu ditanggapi Yesus dengan bergegas segera mendahului mereka ke Yerusalem. Artinya, ia bersegera menyongsong penderitaan dan kematiannya.

Apa hubungannya dengan perumpamaan mina itu?
Yesus menegaskan bahwa Kerajaan Allah ini juga adalah ‘bisnis’ yang harus dijalankan. Ia tidak ikut pilpres 2014 lalu tapi ia mengerti bahwa Kerajaan Allah juga mesti ditanggapi dengan kerja, kerja, dan kerja! Hamba yang menyimpan mina dalam saputangan itu menentang tuannya, dan ayat 27 menyodorkan kalimat mengerikan: semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.

Kaum Farisi itu terus menerus menentang Yesus bahkan pada saat penderitaannya semakin memuncak. Bersama orang-orangnya mereka menyerukan bahwa raja mereka adalah Kaisar (bukan Yesus, orang ‘gila’ ini) dan terjadilah, mereka dihancurkan oleh Kaisar (‘raja mereka’) beberapa puluh tahun setelah peristiwa Yesus. Bahkan sampai saat ini, wilayah hidup mereka terus menjadi lahan konflik, lahan perang.

Jangan mentang-mentang beragama Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, dan entah berapa puluh agama lagi, Anda pikir akan mendapat keselamatan. Keselamatan itu bergantung pada kerja dalam relasi Anda dengan Sang Raja yang sesungguhnya: bukan Sultan, bukan Presiden, bukan Gubernur. Ora et labora!


RABU BIASA XXXIII
19 November 2014

Why 4,1-11
Luk 19,11-28

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s