Terus Aja Pelihara Dendam!

Masih percaya Yerusalem sebagai kota suci? Kemarin lusa, tiga rabbi Yahudi tewas dan muncul seruan pembalasan atas serangan di Yerusalem itu. Dengan begitu, Yerusalem yang semestinya adalah kota suci, destinasi bagi setiap orang Israel, simbol kesatuan, semakin nyata bertolak belakang dengan kota damai; ketidakadilan dan kekerasan berkeliaran di jalan-jalan, orang miskin terlupakan, orang lemah tertindas.

Sekitar dua ribu tahun lalu, Yesus menangisi Yerusalem. Ia tidak menangisi nasibnya sendiri, tetapi menangisi kota-kota yang menolak pesan perdamaian dan keadilan. Kenapa sih? Biar saja toh, wong itu pilihan mereka sendiri! Bukankah sejarah manusia memang senantiasa dipenuhi tragedi?

Ya itulah, tragedi terjadi karena orang tidak menerima warta cinta-kasih, yang memuat juga pesan kebangkitan. Kalau orang cuma gak percaya pada kebangkitan Yesus mah gak masalah; tapi kalau terus menerus menolak pesan kebangkitan itu, hancurlah hidup mereka, bahkan bukan hanya hidup mereka, melainkan juga kemanusiaan.

Tahun 70 kekaisaran Roma menghancurkan Yerusalem, seolah teramalkan oleh kata-kata Yesus: akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.

Lebih ngeri lagi jika holocaust diperhitungkan sebagai bagian dari ‘ramalan’ itu dan sampai sekarang pun tempat itu masih menjadi situs kekerasan demi kekerasan. Ada sinyalemen bahwa lingkaran kekerasan itu sudah bergeser dari wilayah politik ke wilayah seteru agama. Nah, kalau sudah sampai situ, apa ya gak jadi agama konyol?

Penganut agama yang konyol itu mengklaim diri tahu segala-galanya, termasuk skenario Allah sendiri (tidak cocok dengan bacaan pertama dari Kitab Wahyu), dan begitu yakin bahwa kejayaan di bumi ini bisa ditegakkan dengan kekerasan. Pesan kebangkitan bertentangan dengan ituyaitu bahwa cinta lebih kuat dari kekerasan, bahkan ujung dari kekerasan: kematian!

Mereka yang percaya pada kebangkitan Kristus secara logis lebih mudah mengerti hal itu, tetapi belum tentu juga bisa menghayati bahwa cinta memang lebih kuat dari kekerasan. Cintalah yang memutus lingkaran kekerasan, sedangkan dendam melanggengkannya.


KAMIS BIASA XXXIII
20 November 2014

Why 5,1-10
Luk 19,41-44

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s