Agama Selingkuh

Pluralitas agama yang terkombinasi dengan kesenjangan tingkat pendidikan di negeri ini memang rawan perselingkuhan: kekuasaan bisa kongkalikong dengan agama untuk melancarkan pencapaian kekuasaan yang lebih kokoh. Simbiosis ini bisa bersifat mutualis: keduanya saling memberi legitimasi; dan rakyat, apalagi yang tertindas, semakin ancur.

Injil hari ini menunjukkan dua reaksi terhadap ajaran dan tindakan Yesus dari dua kelompok masyarakat. Yang pertama adalah reaksi kaum Farisi yang bersekongkol hendak membunuh Yesus. Pada Injil Markus lebih eksplisit dan provokatif: bukan cuma kaum Farisi, tetapi juga kelompok Herodian (bdk. Mrk 3,1-6). Begitulah, altar dan kuasa bersatu melawan Yesus. Yang kedua adalah reaksi orang banyak: mereka mengikuti Yesus. Bahkan meskipun mereka ngerti bahwa kaum Farisi dan Herodian bersekongkol hendak membunuh Yesus, orang banyak toh tetap mengikuti Yesus. Yesus menyembuhkan mereka yang sakit, tetapi melarang mereka untuk berkoar-koar mengenai identitas Yesus dan apa yang dibuatnya.

Di situ ada kontras. Di satu sisi ada konflik hidup-mati antara Yesus dan pemegang otoritas agama. Di lain sisi ada gerakan orang yang justru tertarik mengikuti Yesus. Kontras ini oleh penulis Injil Matius dilihat sebagai pemenuhan nubuat Yesaya (50,5-7) yang dikutipnya. Apa relevansinya nubuat Yesaya itu? Bagi penulis Injil Matius, apa yang terjadi pada Yesus itu meneguhkan pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias yang ditunggu-tunggu orang Yahudi.

Untuk sebagian orang Yahudi, pengakuan itu tidak diterima. Orang Yahudi yang mana? Yang memperselingkuhkan agama dengan kekuasaan politik itu tadi! Perselingkuhan ini membutakan orang beragama untuk melihat kehadiran Allah dalam sejarah. Gereja Katolik sebelum protestantisme mengulangi apa yang dibuat pemuka agama Yahudi dan penguasa politik. Tak mengherankan bahwa kemudian terjadi perpecahan dalam tubuh Gereja.

Pola yang sama juga bisa terjadi dalam agama mana pun: begitu agama dipolitisir atau politik dilegitimasi agama, identitasnya kabur dan tujuan tak tercapai. Tak usah berpikir muluk-muluk: adakah orang yang sungguh berdoa saat ia dipaksa berdoa? Ada, anak-anak. Mereka berdoa karena disuruh, tetapi jelaslah bahwa seorang anak paling jauh dengan doanya hendak mencapai status sebagai anak baik (good boy), bukan relasi personal dengan Tuhan. Untuk membangun relasi personal dengan Tuhan, seorang anak tak bisa terus menerus dipaksa berdoa, tetapi dibimbing untuk aware terhadap rasa perasaan mereka, rasionalitas beragama, dan kehendak untuk seperti Yesus memberi preferensi kepada kaum lemah, di mana Allah kerap menyatakan Sabda-Nya.

Tuhan, semoga aku mampu memelihara kerinduan untuk senantiasa mendengar Sabda-Mu. Amin.


HARI SABTU BIASA XV B/1
18 Juli 2015

Kel 12,37-42
Mat 12,14-21

Posting Tahun Lalu: Working Evil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s