Untung kagak ngebut

Saya merasa diri sebagai orang Jawa yang masih bisa bilang ‘untung’ dalam menanggung kesialan! Saya teringat candaan seorang guru yang selalu diingatkan teman supaya kalau berjalan kaki di jalan raya itu minggir seminggir-minggirnya. Ia selalu berkilah bahwa ia sudah minggir, tidak melewati marka jalan sebagai batas jalur kendaraan. Sering digoda begitu, suatu kali ia menunjukkan kepada rekannya sebuah potongan berita di koran: Mobil selip, pedestrian tewas. Pedestrian di trotoar itu tewas karena mobil menghimpitnya ke tembok pagar rumah di pinggir jalan. Katanya,”Mbok kowe arep minggir tekan pager nek wayahmu mati ya ngene iki!” (Biar kamu minggir sampai pagar pun kalau saatnya kamu mati ya begini ini!)

*****

Seumur hidup belum pernah saya mengalami kecelakaan tunggal. Pagi tadi, bermodal jaket menutupi jubah dan celana panjang berbahan katun yang jauh lebih tipis dari bahan jeans, saya mengendarai motor dengan kecepatan yang kalem. Sebelum masuk daerah menikung saya merendahkan persneleng dan sudah menginjak pedal rem juga. Ketika saya mulai memiringkan badan, tiba-tiba motor tak terkendalikan dan secara refleks saya melepas pegangan stang dan kepala saya terbentur aspal. Saya jatuh, tetapi segera bangun untuk mengambil motor yang terbaring tenang di tengah jalan. Untung ada yang membantu karena rupanya tangan kanan saya terkilir, tak kuat mengangkat motor. Saya melanjutkan perjalanan ke tempat misa.

Saya berkata dalam hati,”Untung tadi tidak ngebut.” Ndelalahnya kok tadi pagi itu saya tidak ngebut. Biasanya saya lebih kencang dari itu dan tak bisa saya bayangkan jika saya melaju kencang di tikungan itu. Helm pun tidak saya kunci sampai terdengar bunyi ‘klik’ karena memang saya tidak berencana ngebut juga, hanya dalam kota. Entah berapa meter saya terpental dan ke mana motor itu lari kalau saya menikung dengan kecepatan tinggi….

Sepulang misa, saya amati jaket saya sedikit tergores, tak ada yang sobek. Celana pun tak ada yang sobek, tetapi alangkah terkejutnya saya lihat dua lutut saya berdarah. Ternyata aspal pilih kasih; ia lebih memilih kulit saya untuk diparut daripada celana yang saya sodorkan. Mungkin ia puas melihat saya meringis tertawa menahan panasnya obat luka produk Cina, tangan terkilir dan menatap puasa futsal di awal musim ini.

Ratusan kali saya lewat tikungan itu, dengan kecepatan yang lebih tinggi, tak ada insiden. Sekarang, ketika saya lebih kalem, lebih hati-hati, justru terjadi insiden. Saya merasa ada pasir yang membuat roda terselip tiba-tiba (untuk tidak menyalahkan bobot saya yang bertambah satu kilo!). Pokoknya, dari pihak saya, saya sudah hati-hati dan tak terburu-buru, tetapi itu toh bukan jaminan. Anything may happen: whoever, whatever, whenever, wherever, however…

Malam ini baru saya teringat, saya pernah satu kali selip sedikit di tikungan itu dengan kecepatan lumayan, tetapi saya masih mampu mengendalikan motor. Ratusan kali Tuhan mengizinkan saya bebas selip; sekali Ia membiarkan saya mengontrol motor ketika selip, dan sekarang saat saya lebih hati-hati malah ia membiarkan motor mengontrol saya! Maturnuwun, Gusti, Kamu baik skaleee‘!

Tuhan, bantulah aku untuk bersyukur atas penyelenggaraan-Mu dan meletakkan seluruh hasil usahaku dalam kemurahan hati-Mu.

4 replies

  1. Alhamdulillah.. Sampeyan slamet, Bung. Jatuh begitu itu kalau kenceng dikit aja, hanya Tuhan yg tahu.
    Btw, itu lututnya itu diparut sama kain yg jd panas krn gesekan sama aspal, karena panas gesekan kain jadi elastis sehingga gak sobek..(ciee sok tau dikit napa.. Hehe)

    Like

    • Hahaha iya itulah, Bang Alf; sebetulnya kalau ada slow motion asyik juga ya untuk melihat bagaimana lutut diparut kain elastis itu… tapi ya di hati rasanya mak sengkring…
      Pernah punya pengalaman parutan aspal begitukah? Kalau belum, ya jangan deh…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s