Latihan Doa 31: Kerohanian Kanak-kanak

1. Persiapan Doa (5-15 menit)

Memilih (baca semua secara sepintas lalu memilih salah satu yang dianggap menyentuh hati), menyiapkan bahan doa:
Mat 19,13-15 (Kisah Abraham)
1Yoh 2,12-17 (Kisah mengenai pemuda kaya)
Mrk 9,14-29 (Iman dan perbuatan baik)
Sir 51,1-12 (Kebebasan)
Mencari tempat doa yang kondusif, menonaktifkan apa saja yang bisa mendistraksi kegiatan doa.
Mengambil posisi yang paling kondusif untuk berdoa (duduk tegak, bersila, telungkup… tapi mungkin posisi ini nantinya membantu orang untuk tidur)

Doa persiapan:

Tuhan Yesus, aku mohon rahmat iman seperti anak kecil karena tahu bahwa yang penting bagi Allah bukanlah pertama-tama seberapa banyak hal dan prestasi yang bisa kuraih demi Dia, melainkan lebih soal seberapa banyak aku bisa mempercayakan diriku kepada-Nya sebagai Bapa dan penyelenggara hidup ini.

2. Doanya sendiri (20-60 menit)

  • Injil Matius 19,13-15 memuat pernyataan Yesus,”Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”
    Anak-anak menjadi bagian Kerajaan Allah bukan karena mereka unyu-unyu atau inosens. Anak-anak, khususnya anak-anak kecil, menjadi bagian Kerajaan karena mereka tidak pernah jatuh dalam dosa self-sufficiency. Mengapa? Karena mereka tidak mungkin hanya menggantungkan hidup pada diri mereka sendiri. Kualitas ketergantungan yang rendah hati inilah (termasuk trust dan kepatuhan anak-anak) yang paling penting dalam catatan Injil ini.
    Mempertimbangkan relasiku dengan Tuhan, dalam arti apakah imanku itu berciri ‘kanak-kanak’ (pasti bukan yang ditunjukkan dalam tahap-tahap perkembangan iman oleh Fowler)?
    Refleksikan dan klarifikasilah.
    Dalam arti apa imanku tidak berciri ‘kanak-kanak’ itu? Refleksi dan klarifikasilah.
  • Siapakah model “iman kanak-kanak”-ku sendiri? Mengapa mereka menjadi model?
  • Banyak bagian dari kerohanian St. Teresa dari Lisieux merupakan kerohanian ‘jalan kecil’, yang tidak lain adalah kerohanian kanak-kanak tadi, jalan trust dan penyerahan diri mutlak. Berikut ini doa St. Teresa yang mencerminkan ‘jalan kecil’-nya:
    Tuhan terkasih, Engkau tahu kelemahan-kelemahanku. Setiap pagi aku berniat menjadi rendah hati, dan pada sore harinya kudapati seringkali aku jatuh dalam kesombongan. Melihat kesalahan-kesalahan ini aku tergoda untuk hilang semangat. Akan tetapi, aku tahu bahwa hilang semangat itu sendiri adalah bentuk kesombongan. Karena itu, Tuhanku, aku ingin membangun seluruh kepercayaanku kepada-Mu; karena Engkau dapat melakukan segala hal, berkenan untuk menanamkan dalam jiwaku keutamaan yang kudambakan itu. Amin.
    Bagaimana dengan diriku, apa yang membuatku kehilangan semangat? Sebut dan jelaskanlah. Mengapa begitu?
  • St. Teresa menyatakan bahwa ‘hilang semangat itu sendiri adalah suatu bentuk kesombongan’. Bagaimana pandangan St. Teresa ini berlaku bagi diriku? Kapan sajakah aku merasa semangatku tergembosi dan sadar bahwa pengalaman hilang semangat itu kenyataannya adalah bentuk kesombongan?
  • Dalam wilayah hidupku yang manakah aku perlu lebih mempercayakan diriku kepada Tuhan? Carilah dan perjelaslah.
  • Apa yang kurasa perlu kulakukan untuk membuat imanku kepada Tuhan lebih klop dengan iman yang berkualitas ‘anak-anak’ tadi?

Melakukan wawancara batin

Mengimajinasikan Kristus yang bergantung di salib dan berdialog mengenai iman seperti yang dimiliki ‘anak-anak’.
Mohon berkat Allah dan akhiri dengan rasa syukur yang tulus atas penguatan Allah dan rahmat penghiburan, dengan doa Bapa Kami atau Jiwa Kristus atau Salam Maria.

3. Refleksi (5-15 menit)

Mencatat poin-poin penting dalam proses doa:
(1) perasaan-perasaan sebelum doa, pada saat doa, dan setelah selesai doa
(2) insight yang diperoleh dari doa tadi (baik yang bersifat informatif intelektual maupun spiritual)
(3) niat atau dorongan-dorongan yang muncul setelah doa.