Bela Rasa vs Tindakan?

Bacaan pertama hari ini menggambarkan bagaimana pembelotan umat Israel terhadap pengajaran Allah sendiri. Alih-alih berupaya memahami pengajaran Allah, umat Israel justru semakin membiasakan diri dengan mezbah buatan manusia: sibuk mempercantik bangunan ibadat, menggalang dana demi kepuasan diri mereka sendiri. Nabi Hosea bersuara lantang menegur kesesatan umat Israel dan menyatakan betapa Allah bisa saja menghukum mereka kembali ke masa penindasan bangsa Mesir.

Bahasa Jawa punya kata yang mewakili kegusaran Nabi Hosea: kemropok. Ini sama rasanya seperti saat orang tahu bahwa maling kekayaan negara justru mencoba memanipulasi rakyat dengan orasinya untuk menunjukkan bahwa ia berbakti pada negara. Orang kiranya marah dan jengkel jika dituduh mencuri oleh orang yang justru melakukan pencurian itu sendiri. Dinamika perasaan yang sama bisa juga dilekatkan pada Yesus yang difitnah oleh orang Farisi: dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan! Kemropok gak sih dibilang gitu?!

Akan tetapi, rupanya dinamika perasaan Kristus bergerak ke arah lain: Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Fokus Yesus tidak terletak pada rasa perasaannya, tetapi pada agenda keselamatan. Ia sungguh-sungguh menginginkan keselamatan banyak orang, betapapun polah tingkah mereka lebih cocok dengan yang digambarkan Nabi Hosea.

compassion
Belas kasihan, bela rasa atau compassion muncul dan mendorong orang untuk menyelamatkan, bukan untuk menghancurkan. Banyak orang beranggapan bahwa bela rasa saja tidak cukup, orang harus bertindak. Akan tetapi, kualitas bela rasa atau compassion seseorang justru baru bisa diketahui atau diukur dari tindakannya menanggung derita sesama. Jadi, ungkapan “gak cukup berbela rasa, harus bertindak” itu lebay dan malah gak tepat.

Ada pengajar yang maunya sekali menjelaskan dan setelah itu: muridnya ngerti ya syukur, gak ngerti ya usaha sendiri untuk memahaminya! Kristus adalah guru nan sabar yang tetap fokus pada agenda keselamatan Allah. Ia begitu sabar menemani para murid maupun orang banyak, bahkan meskipun kesabaran itu mengkhianati dirinya sendiri! Ia tetap setia pada panggilannya, pada azas dan dasar hidupnya.


SELASA BIASA XIV A/2

Hos 8,4-7.11-13
Mat 9,32-38

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s