Revolusi Mental Pengemis

Kadang untuk mengemis dibutuhkan juga cara-cara inovatif, loh! Tidak semua orang punya bakat dan kreativitas untuk mengemis. Sebagian pengemis berupaya memoles penampilan supaya membuat orang lain iba pada dirinya. Beberapa yang lain menyiksa anak balita di bawah terik matahari untuk menyentuh perasaan orang yang lewat. Target mereka jelas: uang!

Sepuluh orang kusta dalam bacaan hari ini dari kejauhan berteriak kepada Yesus supaya ia berbelas kasihan kepada mereka. Memang itulah yang mereka butuhkan, belas kasihan Yesus! Belas kasihan Yesus itu tidak berupa uang rupanya. Ia malah meminta mereka pergi kepada para imam, seturut adat kebiasaan Yahudi demi menentukan sembuh tidaknya mereka dari kusta dan dengan demikian bisa diterima kembali dalam komunitas agama Yahudi.

Satu orang kembali kepada Yesus, justru orang yang dianggap kafir, untuk berterima kasih kepadanya. Sosok ini justru dipandang Yesus sebagai pribadi yang kesembuhannya disempurnakan oleh imannya. Sembilan yang lainnya? Mereka memenuhi prosedur dan aturan kesembuhan orang kusta dan hilang entah ke mana tanpa relasi dengan Yesus yang memungkinkan kesembuhan mereka. Ironis: orang kafir justru berterima kasih, orang taat hukum agama kok malah tidak berterima kasih.

Pesannya jelas, yang membuat kafir atau tidaknya seseorang bukan agamanya apa, melainkan kualiteit relasinya dengan Tuhan. Salah satu kualitas relasi itu ialah syukur atas belas kasihan Tuhan! Itu mengapa perayaan syukur bersama (Ekaristi) senantiasa diawali dengan permohonan akan belas kasihan Tuhan sendiri dan ini senantiasa berfaedah untuk dijadikan tarikan nafas kehidupan: Gusti, nyuwun kawelasan!

So, di mana revolusi mental pengemisnya?
Ya target minta-mintanya: bukan duit, melainkan apa saja yang muncul dari belas kasihan Tuhan. Bisa jadi Tuhan melihat secara berbeda apa yang sesungguhnya dibutuhkan orang. Pengemis yang mentalnya belum revolusioner hanya mau terima uang. Pengemis yang sudah tercerahkan bahkan bersedia menerima pendidikan supaya hidupnya lebih berkualitas!


RABU BIASA XXXII
Peringatan Wajib St. Yosafat
12 November 2014

Tit 3,1-7
Luk 17,11-19

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s