Jangan Takut Mencinta

Orang yang jatuh cinta akan mati-matian berusaha menjaga supaya objek yang dijatuhi cintanya tak lepas dari genggaman. Orang yang jatuh cinta takut kehilangan objeknya: takut berpisah, takut perselingkuhan, takut dikhianati, dan takut-takut yang lainnya.

Orang yang mampu mencinta adalah orang yang mau dan mampu berjaga-jaga supaya cintanya tetap mengalir, memancar dari dirinya. Ia mencintai objeknya bukan karena takut kehilangan, melainkan karena itulah konsekuensi cinta yang tumbuh dalam dirinya. Bahkan kalau cinta itu mengarahkannya pada perkawinan, perkawinan itu bukan wujud dari ketakutan akan kehilangan tadi. Itu adalah realisasi semangat magis dalam azas dan dasar hidup seseorang, yang terpanggil untuk membangun hidup berkeluarga.

Bacaan pertama hari ini menunjukkan bagaimana cinta itu merupakan terang yang mengalir dari Allah sendiri sehingga orang tak butuh lagi cahaya lampu dan cahaya matahari. Nah, de facto, orang gak bisa hidup tanpa cahaya matahari, bukan? Apa masuk akal orang yang penuh cinta itu gak takut kehilangan? Masuk!

Kalau orang sungguh-sungguh dikuasai cinta (bukan sedang kasmaran semata), objek cintanya akan ditempatkan dalam cintanya kepada Allah sendiri, kepada sosok yang punya proyek universal keselamatan semua orang. Maka, fokusnya bukan lagi kepentingan narcisistik, melainkan bagaimana proyek universal tadi terwujud juga melalui relasi dengan manusia lain.

So, kalau suami dan anak-anakku ini memang merupakan medium proyek universal tadi, aku mengalirkan cinta proyek universal tadi bukan karena takut kehilangan suami dan anak-anak; kalau aku bekerja membanting-banting tulang, itu bukan karena aku takut mereka tak sayang lagi padaku, melainkan karena dengan itulah cinta proyek universal itu saat ini paling tepat bisa kuwujudkan.

Perintah untuk berjaga-jaga atau ronda tak perlu ditaati dengan iringan ketakutan barang-barangku bakal dicolong maling, melainkan dijalankan dalam suka cita penuh doa supaya proyek keselamatan bagi banyak orang bisa diwujudkan. Luarnya sih sama, dalemannya beda…


SABTU BIASA XXXIV
29 November 2014

Why 22,1-7
Luk 21,34-36

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s