Jombloh 4ever

Konon merpati tak pernah ingkar janji, tetapi barangkali tak banyak orang yang berkarakter seperti merpati, sehingga janji sehidup semati cuma tinggal dalam impi. Adalah sosok Yesus yang memiliki impi berbeda dari orang-orang sezamannya. Ia tidak hanya mengimpikan orang jadi seperti burung merpati yang tak pernah ingkar janji, tetapi bahkan mengimpikan supaya kalau orang married, relasi dengan pasangannya itu adalah cerminan dari kesetiaan Allah sendiri terhadap manusia. Ini impi yang tidak populer dalam kebiasaan Yahudi pada zamannya, yang mengandalkan surat cerai yang bisa dibuat karena hukum agama memungkinkannya.

Entah mengapa sebelumnya tak ada orang yang menentang praktik kawin cerai yang mencederai terutama perempuan. Memang konon ada nabi yang bahkan mengawini pelacur dan meskipun pelacur itu kemudian selingkuh berkali-kali sampai memunculkan dua anak, dia toh tetap menerima kembali istrinya itu. Kisah cintanya tidak per se menjadi kritik terhadap praktik kawin cerai dalam agama mereka. Meskipun demikian, ada kesamaannya dengan apa yang diimpikan Yesus: relasi antarmanusia yang mencerminkan kesetiaan Allah. Relasi seperti ini mengatasi janji sehidup semati karena Allah mengatasi janji yang dibawa mati.

Maka dari itu, ia juga tidak menolak pandangan muridnya bahwa lebih baik tidak usah kawin saja. Tentu hal itu tidak dimaksudkan sebagai perbandingan bahwa hidup selibat, tidak kawin, njomblo forever itu lebih baik daripada hidup kawin. Sama sekali tidak! Poinnya bukan di situ, melainkan cerminan kesetiaan Allah kepada umat-Nya itu. Kalau orang tidak kawin tapi hidupnya tidak mencerminkan kesetiaan Allah ya sami mawon sama saja uguale! Begitu pula halnya orang kawin tapi tak mencerminkan kesetiaan Allah, sama merpati aja terlihat njomplang karakternya.

Apa sih yang bikin karakter orang tak bisa selevel karakter merpati yang tak pernah ingkar janji itu? Katanya, itu akibat ketidakmatangan dari kekerasan hati orang sendiri. Kekerasan hati itu menuntut pihak lain melayani dan dirinya dilayani. Ini jelas bukan perkawinan dewasa, timpang, subordinatif. Perkawinan itu bisa saja bertahan sampai akhir dan selama itu pula terjadi relasi subordinatif: yang satu menguasai yang lain. Dalam keadaan seperti itu, perkawinan kehilangan maknanya karena cinta Allah absen, karena relasi antarpribadi itu tak mencerminkan cinta-Nya, tetapi memanifestasikan tendensi relasi kekuasaan pihak yang satu terhadap yang lainnya. Lucunya, relasi kekuasaan itu bisa jadi juga merupakan buah dari ketakutan pihak yang menerapkannya: takut kehilangan, takut dikhianati, takut ditinggalkan, dan takut-takut lainnya. Akan tetapi, ketakutan-ketakutan itu pun bisa berlaku juga bagi mereka yang konon mau jomblo forever.

Sudah semestinya jika orang mau memilih entah kawin atau tidak, ia menjadi pribadi yang merdeka: bebas untuk membuat komitmen. Ini paradoks: bebas berkomitmen, tetapi di situlah makna ditemukan dan cinta Tuhan jadi konkret, bagaimanapun akibat yang ditimbulkan oleh komitmen itu.

Ya Tuhan, semoga hidup kami boleh menjadi cerminan kesetiaan cinta-Mu. Amin.


HARI JUMAT BIASA XIX A/1
18 Agustus 2017

Yos 24,1-13
Mat 19,3-12

Jumat Biasa XIX C/2 2016: Perkawinan Politis?
Jumat Biasa XIX B/1 2015: Paus Izinkan Perceraian dalam Katolik?
Jumat Biasa XIX A/2 2014: Kawin Cerai Kawin Cerai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s