Semoga Cepat Gemuk

Kadang bisa terjadi kata-kata yang diucapkan seseorang, juga dalam doa, melenceng dari apa yang ada dalam hatinya. Mengapa bisa begitu? Karena hati orangnya sendiri terbagi, terpecah, gagal fokus: antara berelasi dengan Allah dan berelasi dengan sesama. Yang mestinya disampaikan kepada Allah, malah dipaksakan kepada manusia, dan yang mestinya dipasrahkan kepada tanggung jawab manusia, malah disampaikan kepada Allah. Di situ bisa terjadi komunikasi yang secara sistemik terdistorsi.

Ini bukan maksudnya menyindir sebuah doa. Memang mau membahasnya. Penting gak sihEnggak!
Pernah mendengar doa yang berisi informasi mengenai deskripsi suatu acara? “Ya Tuhan, dalam memperingati hari kemerdekaan kami yang ke-72, yang sudah diperjuangkan oleh para pendahulu kami, para pahlawan, yang sebagian daripadanya belum mendapat penghargaan yang layak, kami haturkan puji dan syukur ke hadirat-Mu karena Engkau telah menganugerahkan bangsa yang besar, yang pemimpinnya kurus kering karena pekerjaannya yang berat. Jadikanlah pemimpin kami gemuk [seperti sapi impor kami]!”

Adakah yang salah dengan rumusan doa itu? Ya gak ada. Suka-suka yang mau doa ajalah. Akan tetapi, dari rumusan doa kelihatan mana yang ditujukan kepada Allah sebagai sasaran doa, dan mana yang tidak relevan, kalau tak bisa disebut sebagai sindiran. Mana yang tidak relevan? Yang sifatnya informatif. Allah tak butuh informasi, betapapun mutakhir informasi itu. Butuhkah Allah penilaian ‘tajam ke bawah tumpul ke atas’?

Memang sayangnya, Allah bahkan tak butuh kata-kata [karena Dialah Sang Kata-kata]! Manusialah yang membutuhkannya. Lha njuk apa gunanya berdoa dengan kata-kata dong Mo? Kalau mesti pakai kata-kata, rangkaian kata itu seyogyanya muncul dari kedalaman hati untuk mengarahkan perhatian orang kepada Allah, bukan kepada dimensi politik yang bisa sindir sana sindir sini. Selidik punya selidik, katanya doa orang yang meminta agar Jokowi digemukkan bukan untuk menghina. Ia mengaku, doa itu ia ucapkan agar Jokowi kuat memikul beban negara yang berat. Kalau memang begitu intensinya, tentu saja lebih pas orang mohon supaya kekuatan Allah menaungi Jokowi dalam menjalankan tugasnya; ini bukan soal gemuk kurus. 

Kalau doa orang malah fokus ke kurus gemuknya Jokowi, tanda tanya diundang: ini doa atau dagelan? Kalau doa kok fokusnya malah bukan kepada kekuasaan Allah; kalau dagelan kok ditempatkan dalam ritual keagamaan! Ini penistaan, tetapi karena saking banyaknya orang menista, bisa jadi ini dianggap lumrah dan akibatnya semakin susah membangun ketulusan dalam hidup berbangsa dan bernegara, sebagaimana dalam hidup interpersonal.

Dalam perspektif yang disodorkan Yesus hari ini, urusan politik pun bahkan perlu diletakkan dalam kerangka relasi manusia dengan pemilik hak hidup manusia, yaitu Allah sendiri. Ini sama sekali tidak berarti menyangkal urusan politik antarmanusia. Sebaliknya, politik antarmanusia itu mestinya dijiwai oleh nilai universal yang dibisikkan Allah, bukan nilai agama yang partikular sifatnya. Begitu hak hidup manusia itu mau dikangkangi oleh area politik identitas (agama, misalnya), Allah justru dikibaskan, dan karenanya agama menjadi komoditi, menjadi alat bahkan untuk memeras umat yang secara tulus hati hendak menjumpai Tuhannya. Ini sangat memprihatinkan orang yang sungguh beriman, apapun agamanya. 

Ya Allah, mohon kemerdekaan hati supaya kami semakin terarah pada-Mu. Amin.


HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
(Kamis Biasa XIX A/1)
17 Agustus 2017

Sir 10,1-8
1Ptr 2,13-17
Mat 22,15-21

Posting 2016: Warga Negara Ganda
Posting 2015: Rombongan Tujuh Belasan

Posting 2014: Merdeka Brow!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s