Tafsir Kafir

Tadi malam ada tontonan film pendek yang memenangkan Festival Film Puskat 2017. Ada dua kategori yang dilombakan untuk mendapat Roedi Hofmann Award ini: dokumenter dan cerita. Yang hendak saya ceritakan di sini pemenang kategori cerita yang berjudul ‘Tafsir’. Yang mengejutkan dari film pendek itu ialah bahwa anjing memerankan dirinya sebagai anjing. Dia tak butuh stuntdog untuk memerankan anjing yang kakinya sakit karena kecelakaan [moga-moga tidak dicelakai demi pembuatan film pendek itu ya]. 

Film pendek ini menyodorkan pergulatan seseorang yang di tengah jalan melihat anjing yang celaka itu. Isi pergulatannya sendiri kiranya ditunjukkan oleh adegan-adegan sebelumnya ketika tiga orang melewati jalan tempat anjing itu terkapar. Yang satu sibuk dengan dokumentasi, yang satu secara eksplisit mengatakan soal kenajisan jika menyentuh binatang itu, dan yang lain berdalih punya urusan bisnis. Pokoknya, tak ada yang menolong anjing itu.

Protagonis kisah pendek itu adalah seorang muslim yang akhirnya menolong anjing itu. Tidak dikisahkan bagaimana ia menolong, tetapi ditunjukkan bagaimana ia terheran-heran dengan umat lain yang ngeloyor terus berjalan tanpa peduli terhadap anjing itu. Sang tokoh kita ini bimbang tetapi implisit ditunjukkan ia memberi anjing itu roti dan teh manis atau susu [atau soda gembira?]. Di akhir kisah, protagonis ini membasuh anggota badannya dengan pasir atau tanah, tak begitu jelas bagi saya.

Saya bukan ahli Islam, tetapi saya meyakini bahwa jika agama memiliki sistem penilaian dosa, tentu ada pasangannya: entah tobat, pengampunan, penyembuhan, atau apa lagi. Tak mengherankan, pun kalau ternyata air liur anjing dinajiskan, misalnya, mesti ada mekanisme untuk melepaskan diri dari kenajisan itu, sebagaimana ditunjukkan dengan adegan membasuh anggota badan dengan tanah tadi. Bagi saya, tak penting apakah cara pembersihan diri itu dengan membasuh sekian kali dengan tanah atau pasir. Itu bergantung pada tafsir mana yang hendak diikuti. Yang penting, agama mengorientasikan orang pada pembersihan atau penyucian diri dan karena itu orang tak perlu takut memperjuangkan kemanusiaan atau kehewanan atau ketumbuhan hanya karena kenajisan. Sungguh ironis jika orang beragama malah mengurbankan kemanusiaan dan lain-lain dengan alasan ritual karena toh mesti ada ritual lainnya yang bisa dilakukan untuk penyuciannya. Sekurang-kurangnya itulah spiritual vision yang bisa saya petik.

Hubungannya dengan bacaan hari ini apa ya, Mo? Bukankah kisah pendek itu lebih mirip dengan cerita The Good Samaritan (Luk 10,25-37)? Betul, tetapi saya berangkat dari spiritual vision tadi: tak ada ciptaan yang kenajisannya tak tersembuhkan atau terobati selain mereka yang tak mengenal Allah, atau dalam teks hari ini disebut pemungut cukai (yang Allahnya adalah mamon). Oleh karena itu, umat beriman senantiasa dipanggil untuk menyokong sesamanya dalam menggapai spiritual vision dari Allah yang sesungguhnya, bagaimanapun kesalahan sesama itu.

Trus, orang atheis itu kan gak mengenal Allah, Mo? Itu klaimnya orang atheis. Orang yang mengklaim diri atheis itu sebenarnya mengenal Allah, tetapi tak mau mengakuinya karena berbagai macam alasan sehingga terdengar lebih banyak hal yang ditolak daripada diterimanya. Piye jal, pernah dengar ada orang yang menolak sesuatu yang gak ada?

Tuhan, semoga nama-Mu dimuliakan dalam hidup kami. Amin.


HARI RABU BIASA XIX A/1
16 Agustus 2017

Ul 34,1-12
Mat 18,15-20

Rabu Biasa XIX B/1 2015: Satu Dunia?
Rabu Biasa XIX A/2 2014: Correctio Oke, Fraterna Tunggu Dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s