Mana Ambisi

Dalam benak orang pada umumnya, anak kecil dianggap ‘belum jadi orang’. Untuk jadi orang, banyak nasihat yang bisa diberikan: jadi orang tuh begini begitu bla bla bla. Persepsi macam ini menyimpan ide bahwa anak kecil belum memiliki keutuhan hidup dan untuk mencapai keutuhan hidup itu, ia mesti dibekali dengan aneka macam hal sebagaimana dipikirkan orang-orang dewasa. Padahal, orang dewasa mana sih yang bisa mengklaim dirinya utuh tanpa memelihara kualitas tertentu yang built-in dalam diri anak kecil?

Kualitas built-in anak kecil inilah yang dipakai Yesus untuk menanggapi gagal fokusnya para murid. Menjengkelkan memang kalau di tengah-tengah proyek besar, seseorang mempersoalkan hal yang gak penting banget, apalagi jika kontras dengan proyek besar itu sendiri. Konteks kisah hari ini tak jauh dari pewartaan mengenai kematian yang sedang disongsong Yesus tetapi perhatian yang dipelihara murid-muridnya justru soal kemuliaan, kebesaran yang jadi target mereka.

Ini bak video viral yang belakangan ini muncul mengenai orang-orang yang menunjukkan arogansinya dan bisa memaki-maki pribadi maupun institusi dengan kata-kata mengerikan untuk menggelembungkan dirinya. Betul kemudian disusul dengan permintaan maaf, tetapi permintaan maaf itu tidak menghentikan arogansinya begitu saja. Kesan arogansi bisa diubah, tetapi arogansinya sendiri bisa jadi masih bercokol dalam diri karakter dan tentu memprihatinkan, kalau bukan mengerikan, jika itu jadi built-in.

Teks hari ini mengingatkan pembaca pada kualitas built-in dalam diri anak-anak yang memungkinkan orang happy forever and ever: pun kalau berambisi, realisasi ambisi itu diletakkan dalam konteks yang lebih luas, bergantung pada orang tua, bergantung pada orang yang lebih dewasa, bergantung pada hidup yang mahadahsyat ini. Menganggap proyek diri segala-galanya malah bisa menghancurkan hidup sendiri. Bayangkanlah jika Musa ngotot memimpin Israel menyeberang sungai Yordan, alih-alih memercayakannya pada Yosua. Bayangkanlah jika Yesus dari Nazaret itu bersekutu dengan orang Zelot dan berperang melawan tirani Romawi: kalau kalah, kekalahannya konyol (lha wong cuma segelintir kok nekad melawan segelontor); kalau menang pun, paling bertahan selama beberapa puluh tahun, dan setelah itu cuma tinggal dalam catatan sejarah sebagaimana orang mengenal nama Hitler, tetapi hidupnya tak berdampak (secara positif) bagi hidup banyak orang.

Tidak mudah memang menempatkan ambisi, agenda atau proyek pribadi, dalam proyek besar Allah bagi hidup manusia. Setiap waktu ada saja yang mesti diprèthèli supaya klop dengan kehendak ilahi. Mana ada sih orang arogan yang mau mrèthèli agenda pribadinya?

Ya Allah, mohon rahmat-Mu supaya kami mampu menempatkan hidup kami dalam terang kehendak ilahi-Mu. Amin.


HARI SELASA BIASA XIX A/1
15 Agustus 2017

Ul 31,1-8
Mat 18,1-5.10.12-14

Selasa Biasa XIX C/2 2016: Jagoan Kalah Dulu
Selasa Biasa XIX B/1 2015: Adakah Yang Kusingkirkan?
Selasa Biasa XIX A/2 2014: Jangan Mentang-mentang Ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s