So Sweet

Setiap orang mesti mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri dan kadang kala bisa jadi ia perlu mengambil tanggung jawab orang lain juga, bukan sebagai wujud kekuasaan, melainkan pengurbanan. Itulah yang dibuat oleh Maksimilianus Maria Kolbe, seorang imam Fransiskan Konventual, yang menyediakan dirinya menggantikan seorang tahanan Nazi untuk menjalani eksekusi mati. Tindakan bodoh alias konyol? Entahlah, bergantung kriteria orang yang mau menghakiminya. Saya sih cuma membayangkan yang sederhana saja. Sebagai tawanan Nazi, tak banyak pilihan dalam sisa hidup orang: mau melarikan diri pun risikonya adalah kematian. Dalam kamp konsentrasi juga akan tiba saatnya ajal menjemput, entah dengan gas, entah dengan cara lain. Dalam situasi dirinya itu, menjadi tebusan seorang bapak keluarga yang punya tanggungan anak istri dipandangnya lebih membawa kebaikan dan makna daripada membiarkannya mati (sebelum Kolbe sendiri mati).

Itu adalah hitung-hitungan di atas kertas dan begitulah hukum manusia; mau menggerutu atau bahagia, terhadap situasi di luar kendali orang, pilihan ada pada subjek yang mengalaminya. Orang yang hidupnya dilingkupi kebahagiaan takkan menyalahkan situasi di luar kendalinya: kamu sih gak bilang-bilang, dia tuh bikin gara-gara, mereka itu berisik abis; tampangnya nyebelin, orangnya keras kepala, dan berbagai litani bisa disodorkan. Pokoknya, orang yang penuh gerutu ini menyalahkan orang lain dan situasi di luar dirinya, seakan-akan masalah itu adanya di luar sana.

Jauh sebelum Maksimilianus Kolbe menghadapi pilihan untuk menggantikan Francis Gajowniczek, konon ia mendapat penampakan (sesuatu yang tampaknya menggejala di masa berat) dalam mimpinya: Maria yang menyodorkan mahkota putih dan merah. Mahkota putih mengandaikan kemurnian hidup dan mahkota merah menuntut kemartiran darah. Maksimilianus memilih kedua-duanya, dan itulah yang dihidupinya. Ia menghayati kemurnian hidup yang dibaktikannya kepada Allah sebagai imam dan biarawan, sekaligus dibaktikan kepada sesama dengan membiarkan dirinya jadi martir.

Allah tidak hendak mengambil alih atau melenyapkan salib/penderitaan manusia. Minimal, itu bukan karakter-Nya. Lha nek ngono wae tur neh gak perlu hidup yang sekarang ini dan di sini, gak ada Adam dan Hawa dan seterusnya. Melalui Yesus dari Nazaret, diteladankan-Nya kepada umat manusia untuk mengambil dan memanggul salibnya masing-masing, bukannya malah menggerutu atau saling menyalahkan. Kalau orang beragama berlomba mencari jalan supaya ia terhindar dari penderitaan karena bakti kepada Allah dan sesama, ia kehilangan imannya.

Maksimilianus Kolbe barangkali dianggap sebagai contoh orang yang memilih lebih baik mati daripada menanggung penderitaan lebih lama lagi (baru 47 tahun, masa persiapan pensiun pun belum). Akan tetapi, jelas anggapan itu keliru. Ia tidak sedang melakukan bunuh diri karena frustrasi, ia membela martabat kehidupan yang mesti diperjuangkan Francis Gajowniczek. Ia mati bukan untuk membunuh orang lain demi kepentingan masuk surga. Ia memberi kehidupan. So sweet, bukan?

Ya Allah, bantulah kami untuk semakin murni bagi-Mu dan berani menanggung segala derita yang dimunculkan oleh dunia ini dalam peziarahan kami kepada-Mu. Amin.


SENIN BIASA XIX A/1
Peringatan Wajib St. Maksimilianus Maria Kolbe
14 Agustus 2017

Ul 10,12-22
Mat 17,22-27

Senin Biasa XIX C/2 2016: Sederhana Saja
Senin Biasa XIX A/2 2014: Tuntutan Etis Privilese

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s