Sederhana Saja

Entah mengapa, adegan dalam bacaan hari ini hampir lenyap dari ingatan saya. Kisahnya seperti tulisan-tulisan sensasional yang menuturkan kehebatan-kehebatan Yesus, yang saya sama sekali tak tertarik. Saking tak tertariknya, saya juga tak ingat lagi apa kisah-kisah sensasional itu. Mungkin karena sebagian orang menangkap ketuhanan Yesus itu seperti karakter-karakter kesaktian yang dimiliki orang-orang zaman dulu, mereka mengisahkan kehebatan Yesus sejak masa kecil dengan cerita-cerita sensasional seturut angan-angannya sendiri.

Dalam teks hari ini ada unsur seperti itu dalam alur cerita yang untuk saya aneh juga; tahu-tahu nongol pegawai pajak Bait Allah mempersoalkan apakah Yesus membayar pajak. Pajak itu sendiri sebetulnya cuma diberlakukan kepada pendatang atau orang asing dan Yesus tidak punya kewajiban itu. Tapi, yasudahlah, daripada bikin skandal, daripada memprovokasi, lebih baik tak perlu memberi kesan cuek pada pengelolaan Bait Allah. Cara memecahkan problemnya juga simpel sekali: ambil duit untuk bayar pajak itu dari mulut ikan pertama yang mereka peroleh di danau.

Beneran saya gak tertarik cerita itu, tetapi justru saking gampangnya pemecahan masalah itu, mungkin memang tak ada hal yang penting-penting banget dalam adegan ini. Artinya, tak perlulah cari perkara dalam hal-hal sepele. Wah, Rom, mosok Tax Amnesty dianggap sepele? Haha… lha kok ujug-ujug bahas Tax Amnesty ya?

Tentu bukan Tax Amnestynya yang sepele, melainkan sikap terhadapnya itu yang tak perlu rumit-rumit. Begitulah hukum dunia ditata. Bisa jadi ada hukum lain yang mungkin lebih baik. Ya gak apa, yang sekarang diterapkan oleh mereka yang punya kuasa itu, sejauh memang fair, ya ikuti saja toh; tak usah berpikir seolah-olah ini jadi beban yang begitu beratnya sehingga orang mesti menentang, memberontak, sembunyi-sembunyi. Ikuti saja sebagai perwujudan penghayatan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Berikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, syukur pajak itu sungguh-sungguh dipergunakan bagi sebesar-besarnya kesejahteraan seluruh negeri.

Tuhan, semoga kami memelihara hukum keadilan-Mu dalam hati kami. Amin.


SENIN BIASA XIX
Peringatan Wajib St. Dominikus
8 Agustus 2016

Yeh 1,2-5.24-28; 2,1
Mat 17,22-27

Posting Senin Biasa XIX Tahun 2014: Tuntutan Etis Privilese

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s