Jagoan Kalah Dulu

Pada posting Senin seminggu yang lalu dinarasikan bagaimana Yesus dan murid-muridnya hendak berlibur, tapi toh tetap dikuntit massa dan di satu tempat ia tak berkutik oleh belas kasihannya dan terjadilah ‘mukjizat’ ribuan orang lapar bisa makan [heran ya, begitu aja dibilang mukjizat; sekarang orang lapar yang bisa makan bukan cuma ribuan… milyaran]. Dalam teks dikatakan: Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. Ini adalah indikasi bahwa dulu, dalam kultur Yahudi, perempuan dan anak-anak itu tak ikut dihitung, bahkan juga dalam urusan makan memakan!

Teks yang diambil hari ini termasuk dalam wacana besar mengenai ‘komunitas’ dengan kata kunci ‘kaum kecil’, yang tak terhitung dalam bilangan orang-orang ‘besar’. Pertanyaan para murid memprovokasi Yesus untuk mengajarkan sesuatu tentang Kerajaan Allah di dunia ini. Mereka ribut soal siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga, dan Yesus malah membawa ke tengah mereka seorang anak, yang, sekali lagi, tak ada dalam hitungan atau anggapan orang-orang ‘dewasa’ itu. Kalo’ lu mau jadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga, lu musti tobat dan jadi seperti anak kecil begini!

Omongan seperti itu biasanya oleh orang-orang saleh dimengerti secara sentimental: anak-anak kan polos, masih suci, bersih, tulus, dan sebagainya. Akan tetapi, Yesus bukannya tidak mengerti bahwa di dunia konkret macam begini, kepolosan, keluguan, ‘kebersihan’ saja tidak cukup. Maka dari itu, tentu childlike tidak pertama-tama soal bahwa pengikut Yesus mesti jadi polos dan lugu. Ya mungkin itu ada gunanya juga, tetapi bukan itu yang utama.

Yang utama ialah bahwa mereka yang ingin masuk dalam Kerajaan Allah mesti berhadapan dengan kenyataan yang menepiskan mereka, bahkan memfitnah mereka, menyingkirkan mereka, gak nganggep mereka, dan sejenisnya. Orang-orang yang ingin masuk dalam Kerajaan Allah mesti siap ditempatkan di ujung belakang, direshuffle dari kabinet, atau didepak dari kelompok orang yang cuma punya tolok ukur bisnis biologis.

Tuhan, mohon kekuatan hati untuk merealisasikan kehendak-Mu juga dengan risiko hidup kami disisihkan. Amin.


SELASA BIASA XIX
9 Agustus 2016

Yeh 2,8-10;3,1-4
Mat 18,1-5.10.12-14

Posting Selasa Biasa XIX B/1 Tahun 2015: Adakah Yang Kusingkirkan?
Posting Selasa Biasa XIX Tahun 2014: Jangan Mentang-mentang Ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s