Yakin dengan Pilihanmu?

Pertanyaan yang dulu kerap dilontarkan kepada orang seperti saya ini (dah jadi imam, gak ngrokok, gak demen minum-minum, jomblo forever gak married, miskin, kudu taat seturut aturan main ‘perusahaan’) biasanya cuma saya jawab,”Gak tau!” Kenapa sih mau jadi pastor alias romo? Mboh! Paling jauh ya saya jawab ‘ikut-ikutan aja‘. Pernah kepepet dan saya jawab,”Ya ini panggilan Tuhan.” Setelah jawaban itu saya lontarkan tentu secara epistemologis wajar diajukan pertanyaan berikutnya: dari mana tahu kalau itu panggilan Tuhan?!

Di balik pertanyaan macam itu bisa jadi orang memikirkan panggilan Tuhan sebagai papan digital di stadion yang menampilkan nama pencetak gol “Ya’ kamu dipanggil Tuhan!”….dan matilah kau dikubur di Tanah Kusir kalau masih ada lahannya!
Kalau panggilan Tuhan dimengerti sebagai tulisan pada papan skor itu, beneran, saya gak ngerti apakah yang saya pilih ini adalah panggilan Tuhan (sebelum saya menceburkan diri ke dalamnya). Bahkan, setelah sekian tahun menjalaninya pun, saya tak bisa juga memastikannya. Kenapa? Karena memang ini bukan semata persoalan epistemologi, ini adalah soal eksistensi, Brow! Haha… apaan tuh, Rom? Mboh!

Saya tak sedang bicara panggilan Tuhan sebagai soal selera seolah-olah seperti memilih agama di pasar agama. De gustibus non disputandum. Silakan digugling atau digugel. Saya tak mempersepsi panggilan Tuhan sebagai selera, seolah anak-anak yang saleh suka (dan dengan demikian cocok) jadi romo dan sebaliknya anak berandalan gak kepikiran karena gak suka jadi romo. Kenyataannya juga tidak begitu.

Tuhan menyayangi mereka yang memberi dengan gembira hati. Kemurahan hati dalam memberi itu membuat orang jadi kaya dalam segala keutamaan: keadilan, cinta, damai, kebaikan. Jika sesuatu pantas diberikan, sesuatu itu mestilah diberikan dengan cinta. Kalau tidak, malah bisa merendahkan si penerima. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam kematian (1Yoh 3,14 ITB). Apa yang menjamin bahwa orang ada dalam cinta? Kegembiraan atau kebahagiaan yang menyertai tindak pemberian dirinya! Jadi, gimana orang ngerti bahwa yang dipilih, yang dijalani adalah panggilan Tuhan? Ini gak peduli apapun pilihan hidupnya: ia happy dengan pemberian dirinya, ia mengalami konsolasi dalam pemberian dirinya, seluruh pengorbanan yang dari luar tampak begitu berat dijalaninya with ease, tidak ngoyo, tidak ngampet, tak cemberut, tak berat hati.

Biji gandum yang dipakai Yesus sebagai metafora menjelaskan hal itu juga: kalo biji itu gak mati, ya tetep cuma sebiji, tapi kalau ia mati, malah menghasilkan banyak buah, membuka cakrawala tanpa batas. Cinta yang begini ini membongkar tempurung sempit orang akibat egoisme dan egosentrismenya. Nyatanya, orang itu ada untuk ‘sesuatu yang lain’, yang terarah pada hidup dalam communion: identitas asali manusia ialah jadi diri sendiri bagi ‘yang lain’. Itu mengapa gada nilainya menghancurkan patung, vihara, mesjid, dan sebagainya karena nyawa sesungguhnya tidak terkungkung oleh dimensi biologis dunia sini. Sama tak bernilainya orang membalas tindakan perusak patung, vihara, mesjid, dan sebagainya tadi.

Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal (Yoh 12,25 ITB). Apa indikatornya? Ya itu tadi: happiness, memberikan diri with ease.

Ya Tuhan, semoga semakin banyak makhluk berbahagia. Amin.


PESTA ST. LAURENSIUS
(Rabu Biasa XIX)
10 Agustus 2016

2Kor 9,6-10
Yoh 12,24-26

Posting Tahun Lalu: Ikhlaskanlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s