Mengampuni Itu Lebih Gampang

Kita mengampuni bukan karena kita lebih baik dari yang kita ampuni, atau karena kita benar dan orang lain salah, bukan juga supaya yang kita ampuni berubah karena pengampunan kita. Kita mengampuni karena kebencian mencederai bahkan membunuh diri kita sendiri, bukan orang yang kita benci (bdk. misalnya posting Healing through Total Forgiveness‘). Lah, motifnya kok egoistik gitu, Rom? Lha ya gak apa toh? Ini kan bukan egoisme yang ofensif terhadap kepentingan orang lain.

Kita mengampuni karena pengampunan itu memerdekakan. Pengampunan tentu tidak menghapus memori, pengampunan gak bikin orang jadi amnesia. Pengampunan tidak membatalkan perlunya keadilan, tetapi tidak memberhalakan keadilan juga. Kita mengampuni karena begitulah sifat Allah pencipta kita. Dalam teks hari ini disodorkan suatu alegori. Yesus bertutur tentang seorang Raja, tetapi dalam benaknya ia memikirkan sifat-sifat Allah. Alegori ini menggambarkan situasi konkret pada zamannya: si Raja punya hak untuk memenjarakan pekerja dengan seluruh keluarganya karena tak membayar hutangnya. Jumlah hutangnya mencengangkan: kira-kira 350 ton emas… mboh kayak gimana itu banyaknya, pokoknya kalau dia dan seluruh keluarganya bekerja dengan gaji tinggi pun takkan sanggup membayar hutang sebanyak itu. Begitulah hutang orang terhadap Penyelenggara Kehidupan, tak bisa lagi diukur secara material (berapa harga oksigen, tanah tempat berpijak, tumbuhan, bakteri, dan sebagainya).

Mari lihat sikap pekerja yang punya hutang 350 ton emas itu. Begitu dapat toleransi, ia mencekik pekerja lain yang berhutang padanya 30 gram emas. Busyet dah! Raja memberi kelonggaran atas hutangnya yang 350 ton dan dia mencekik orang yang hutangnya cuma 30 gram! Kalau orang tak terpukau dengan kenyataan macam ini, bisa jadi ia punya semacam spiritual numbness, yang bisa jadi identik dengan ateisme. Orang ateis tak punya paradigma Raja macam ini yang dalam tuturan Yesus merupakan analogi bagi Allah. Syukurlah, ada teman-teman pekerja itu yang punya intuisi rohani yang wajar sehingga mereka bersimpati pada pekerja yang dicekik oleh pekerja lain yang menghayati spiritual numbnessnya.

Pengampunan Allah itu gratis, tak perlu dibeli, dan tak ada batasnya. Satu-satunya batas kegratisan belas kasih Allah datangnya dari diri manusia sendiri, dari ketidakmampuannya untuk mengampuni sesama (bdk. Mat 6,12-15)! Kenapa gak mampu mengampuni sesama? Mungkin justru karena gak mampu mengampuni diri sendiri, alias tak bisa jujur terhadap diri sendiri yang sudah mendapat pengampunan begitu besar dari Sang Penyelenggara Kehidupan. Spiritual numbness jarang dilirik orang sebagai kambing hitam karena menantang diri orang sendiri untuk mengambil sikap tertentu yang pastinya berisiko. Orang dengan ‘penyakit’ seperti ini tak mampu bersyukur dan bisa jadi loh: orang susah mengampuni pertama-tama karena ia belum bisa juga bersyukur atas rahmat kehidupan yang diterimanya (bagaimanapun kehidupan yang dijalaninya).

Jadi, rupanya lebih susah bersyukur daripada mengampuni. Orang menunggu datangnya hal yang menyenangkan, menguntungkan, menggembirakan, memudahkan, baru kemudian ia merasa bersyukur. Akan tetapi, itu sama sekali bukan syukur. Rasa syukurlah yang justru membawa kegembiraan tanpa syarat, bukan sebaliknya.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami memiliki kepekaan batin sehingga senantiasa dapat bersyukur atas penyelenggaraan-Mu dan bertindak dari rasa syukur itu juga. Amin.


KAMIS BIASA XIX
Peringatan Wajib St. Klara
11 Agustus 2016

Yeh 12,1-12
Mat 18,21-19,1

Posting Kamis Biasa XIX B/1 Tahun 2015: Ampun, Bang!
Posting Kamis Biasa XIX Tahun 2014: Susah Memaafkan?

4 replies

  1. Bagaimana dengan pengalaman Mo? Misalnya orang tersebut belum pernah merasa mendapat pengampunan, sehingga ia juga sulit untuk memberikan pengampunan. Mohon pencerahannya Mo. Terima kasih.

    Like

    • Terima kasih sudi mampir Mas Alexander Indra,
      Secara psikologis bisa dimengerti jika sejak kecil pengalaman anak didominasi oleh situasi tanpa pengampunan (selalu disalahkan, tak pernah diberi apresiasi, diajari balas dendam), kelak dalam usia dewasa pun ia akan sulit mengampuni. Dalam kasus seperti ini memang semakin kentara bahwa pengampunan juga mengandaikan rahmat; di sini diperlukan suatu ‘lompatan iman’. Rasa saya upaya perluasan cakrawala bisa membantu lompatan ini. Bagaimana memperluas cakrawala itu? Dengan zooming out hidup kita sendiri sampai lama kelamaan mengerti bahwa begitu banyak hal dalam semesta yang suportif terhadap hidup biologis kita. Bdk. misalnya posting Sepiring Narkoba. Semoga memberi sedikit indikasi untuk menjawab pertanyaannya. Salam.

      Like

  2. Mohon pencerahannya Mo. Apa yang Romo maksudkan lompatan iman dalam konteks mengampuni ini? Bagaimana contoh penerapannya? Terus terang istilah lompatan iman ini membingungkan saya. Terima kasih.

    Like

    • Halo mas Alexander Indra, ketika orang semata mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk mengampuni orang lain, bisa jadi ia mentok. Psikoterapi atau mungkin terapi lainnya bisa jadi juga mentok. Teorinya mengampuni itu bisa dilakukan dengan ini itu, tetapi kenyataannya batin orang tiada henti bergulat dengan susahnya mengampuni orang lain. Dalam situasi seperti itu, pengampunan, biar bagaimanapun, juga adalah rahmat Allah. Keyakinan macam ini tak ada dalam pola pikir manusiawi, ini mengandaikan iman bahwa Allah maha pengampun dan dari Dialah kita peroleh kekuatan untuk mengatakan,”Ya Allah, ampunilah mereka karena mereka tak tahu apa yang mereka lakukan.” Di situ ada lompatan dari kegalauan pikiran manusiawi menuju iman yang membuat orang makin berserah pada penyelenggaraan Allah. Semoga sedikit menjawab ya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s