Sepiring Narkoba

Alih-alih memberikan komentar atas teks bacaan hari ini, terpaksa saya menuliskan renungan lagi mengingat menjamurnya pola pikir monolitik dalam masyarakat. Apa sih pola pikir monolitik? Itu loh, yang cuma bisa memakai satu sudut pandang untuk melihat kenyataan dan sudut pandang itu tak boleh diutak-atik lagi bukan karena memang tak bisa diutak-atik, melainkan karena orangnya sendiri tak mau diutak-atik dan cuma bisa melihat idol atau berhala daripada ikon. Penyembah berhala cuma berhenti pada patung sebagai berhala atau idol, sementara yang melihatnya sebagai ikon akan mengerti juga realitas di balik ikon itu.

Saya ambil contoh sepiring nasi. Kalau orang mendewakan nasi, ia cuma bisa melihat fungsi nasi itu untuk mengenyangkan perutnya dan apa saja yang menghalangi perutnya untuk memperoleh nasi, ia akan menghalalkan segala cara untuk menghabisi penghalang itu. Lain halnya orang yang berpikir secara relasional. Melalui sepiring nasi itu kesadarannya terangkat pada kenyataan bahwa adanya sepiring nasi di hadapannya itu adalah akibat jalinan hubungan aneka macam orang dan sarana: rice cooker yang terhubung pada listrik (yang berhubungan dengan orang-orang PLN dari kroco sampai pemimpinnya), beras yang diperoleh dari pasar, yang diangkut oleh kuli dari truk (yang sopirnya ngantukan dan stress karena kesulitan finansial) luar kota, dari tempat pengolahan gabah menjadi beras (yang mendapatkan gabahnya dari petani yang dengan tekun mengolah sawah), dan seterusnya. Pokoknya, sepiring nasi itu adalah campur tangan begitu banyak orang, dari petani di pelosok sampai orang tua yang memberi uang kepada pembantu untuk membeli beras.

Bisakah kita mengatakan bahwa hanya petani yang pantas kita ‘terimakasihi’ karena dialah yang menanam padi sampai panen? Bisakah kita mengatakan bahwa hanya pembantu yang layak kita ‘maturnuwuni’ karena dialah yang mencuci beras, menanaknya, dan menyajikannya dalam sebuah piring? Bisakah kita mengklaim bahwa hanya kepada orang tualah kita berterima kasih karena dari uang merekalah kita bisa mendapatkan sepiring nasi? Kalau semua pertanyaan itu dijawab ‘ya’, itu juga benih pola pikir monolitik, yang hanya bisa melihat satu hubungan sebab akibat.

Sekarang, kalau dalam sepiring nasi itu ada sianida yang mematikan dan memang penyantapnya mati, siapa yang pantas digugat sebagai pembunuh? Orang tua yang memberi uang kepada pembantu untuk membeli beras atau petani yang menanam padi? Jelas yang layak dituntut adalah orang yang menaruh sianida pada sepiring nasi itu!

Lha, sekarang kalau dibalik kasusnya: sepiring narkoba tersaji di meja makan. Anggaplah narkoba ini unsur mematikan, yang bisa membunuh jutaan orang secara mengerikan. Kepada siapa penggemar narkoba itu perlu berterima kasih? Pasti bukan hanya kepada orang tua yang memberi uang untuk membeli narkoba, melainkan juga produsen, gembong, kurir, pengedar, stockist, dan aparatus lain yang memungkinkan sajian narkoba itu terhidang di mejanya. Lantas, kenapa cuma kurir (yang bisa jadi juga adalah korban penipuan) yang dihukum mati? Kenapa bukan orang tua penggemar narkobanya? Kenapa bukan produsennya? Kenapa bukan aparatus lain yang meloloskan masuknya narkoba? Kenapa bukan sanak saudaranya yang cuma protes padahal tahu dari siapa narkoba diperoleh?

Saya tak hendak menyalahkan pihak-pihak itu (meskipun memang andil dalam kesalahan), tetapi menunjuk pada kekeliruan model berpikir. Sangatlah tidak fair jika hanya karena kita tak sanggup mengurai jaringan mafia narkoba lantas dikambinghitamkan seseorang dengan label ‘gembong’ dan kemudian menghabisi nyawanya karena label itu. Saya bukan pembela pelaku kejahatan, tetapi dalam sosok pelaku itu terlihat kerapuhan kita sebagai bangsa yang tiada henti mencari kambing hitam [bagaimana mungkin di sana-sini dipopulerkan gagasan bahwa seorang gembong membunuh generasi muda?]. Buruk muka, cermin dibelah!

Petrus dalam teks hari ini tak sanggup melihat ikon. Ia bermain-main dengan pikirannya sendiri bahkan setelah objek yang dilihatnya mengundangnya mendekat, ia masih meminta bukti; tak hanya itu, setelah ada bukti, ia masih asyik dengan pikirannya sendiri. Begitu angin bertiup, takutlah ia dan mulai tenggelam. Apa kambing hitamnya? Angin yang bertiup! Padahal, problemnya ada pada ketakutannya sendiri: Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?!

Tuhan, mohon rahmat kerendahan hati supaya kami tak menghakimi. Amin.


HARI SELASA BIASA XVIII B/1
2 Agustus 2016

Yer 30,1-2.12-15.18-22
Mat 14,22-36

Posting Selasa Biasa XVIII B/1 Tahun 2015: Mau Jadi Bebek?
Posting Selasa Biasa XVIII A/2 Tahun 2014: Kebenaran Menajiskan Hati Yang Korup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s