We’re No Strangers

Wanita Samaria ini mungkin membuat Yesus jatuh cinta. Tahu sendiri kan, kalo orang jatuh cinta ya apa aja bisa dibuatnya demi orang yang dijatuhcintainya itu (atau dijatuhinya cinta, atau dijatuhi cintanya? Mboh). Wanita ini ingin anaknya disembuhkan dari kerasukan setan dan ia mendengar bahwa Yesus itu bisa menyembuhkan orang seperti itu. Ia tahu bahwa Yesus itu kerap membuat mukjizat. Ia tak tahu menahu soal iman. Boro-boro soal iman, ia gak ambil pusing dengan label yang dilekatkan bagi bangsanya oleh orang Israel sebagai bangsa kafir. Itu kan label ciptaan orang Israel; terserah mereka mau bikin label gimana, pokoknya orang ini, Yesus, katanya bisa menyembuhkan orang kerasukan dan orang yang sakit parah; bahkan membangkitkan orang mati pula [gak tau ding apakah wanita Samaria ini pernah mendengar kisah Yesus membangkitkan orang mati].

Murid-murid Yesus bisa jadi juga malu karena orang kafir ini terus menerus berteriak cari perhatian, memohon kepada guru mereka untuk menyembuhkan anaknya. Yesus bukannya ja’im, tetapi kiranya memang dia juga hidup dalam keyakinan orang Israel pada umumnya: ia diutus bagi domba-domba yang hilang dari Israel. Artinya, target misinya jelas: orang-orang Israel (bukan bangsa lainnya) yang slenco, yang tersesat, yang salah jalan. Wanita Samaria itu toh tetap memohonkan kesembuhan sampai kemudian Yesus berkomentar dengan metafora: gak baik yo mengambil roti jatah anak-anak untuk diberikan kepada anjing (sekalipun anjing yang dimaksud di sini adalah anjing peliharaan)! Waw, betapa lembutnya kata-kata Yesus!

Akan tetapi, pedasnya kata-kata Yesus itu justru menyadarkan wanita Samaria ini: betul, Tuan Guru, kami menjalani waktu nan jauh dari Tuhan dan baru ketika kami kena penyakit atau masalah, kami berteriak pada-Nya. Kami ini memang asu ketika kami memperlakukan Tuhan sebagai penguasa korup dan kami tak pantas mendapat perhatian. Tuhan mesti sibuk memperhatikan anak-anak-Nya, yaitu mereka yang mendengarkan dan jadi pelayan-pelayan kebenaran. Betul itu, Tuan Guru, tetapi… wanita Samaria itu menanggapi metafora Yesus: bukankah akhirnya anjing-anjing itu juga bisa menjilati remah-remah roti yang dimakan anak-anak?!

Terserah bagaimana orang membuat label atau mengklaim atau menghakimi, wanita Samaria ini tak begitu ambil pusing. Terserahlah bangsa Israel adalah pilihan pertama Allah, tapi apa njuk Allah mengabaikan yang lainnya? Paradigma wanita Samaria ini mengubah sikap Yesus. Yesus jatuh cinta bukan pada wanita Samarianya ini, melainkan pada imannya yang melampaui arogansi murid-muridnya sendiri dan bangsa Israel. Kerendahan hati wanita Samaria ini mengingatkan Yesus pada proyek yang lebih besar daripada proyek sempit bangsa Israel. Keyakinan wanita Samaria itu justru klop dengan rencana keselamatan Allah sendiri, bahkan meskipun ia dicap kafir oleh orang Israel. Kafir atau gak kafir, terserah apa kata jigong lu dah, yang penting wanita Samaria ini memegang keyakinan bahwa Allah pun menjadi bapa bagi siapa saja yang membuka diri kepada-Nya. We’re no strangers!

Tuhan, semoga kami semakin mampu melihat sinar-Mu dalam keberbedaan. Amin.


HARI RABU BIASA XVIII C/2
3 Agustus 2016

Yer 31,1-7
Mat 15,21-28

Posting Rabu Biasa XVIII B/1 Tahun 2015: Jangan Meremehkan Insha’ Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s