Suka Miskin

Beberapa waktu lalu tersiar kabar bagaimana warga berburu barang bawaan sebuah truk yang terguling. Alih-alih membantu mengumpulkan bungkusan yang berserakan di sana-sini, orang-orang ini malah melakukan penjarahan. Untunglah ada pihak yang menggagalkan upaya penjarahan oleh warga sehingga barangkali risiko yang ditanggung supir truk itu bisa terkurangi. Apakah warga yang berniat menjarah itu adalah warga miskin yang membutuhkan minuman kemasan? Saya kira secara finansial mereka tak begitu miskin: mereka menunggang motor dan saya andaikan motor itu milik (keluarga) mereka, entah cicilannya sudah lunas atau belum

Dari sudut pandang sosial, mental, dan spiritual, tampaknya mereka belum siap untuk jadi kaya. Kepada mereka juga kita dapat berkaca diri seberapa jauh kita berprinsip bahwa tujuan menghalalkan segala cara. Andaikanlah mereka memang membutuhkan air minum kemasan, juga dari bungkusan yang berserakan itu, mereka tetap perlu meminta baik-baik persetujuan pihak yang memiliki hak atas minuman kemasan itu atau membelinya, bukan menjarahnya. Penjarahan menjadi indikator bahwa pelakunya menderita kemiskinan mental, sosial, dan spiritual. Kemiskinan macam ini tak bergantung pada jumlah besaran gaji atau jabatan seseorang. Itu mengapa korupsi bisa dilakukan juga oleh orang yang punya gaji delapan digit.

Kekayaan yang sesungguhnya itu bergantung pada hati orang, yang dalam teks bacaan hari ini ditengarai sebagai hati yang ‘berjaga-jaga’ alias ‘awas’ alias ‘eling‘. Dituliskan di situ anjuran Yesus supaya orang menjual segala miliknya dan memberikan sedekah. Buset, gile aje, mosok dah kerja susah-susah njuk jual-jualin rumah, mobil, kulkas dan lain-lain trus kasih sedekah ke orang lain? Lha gue gimane bisa idup? Tuh kan, bego’ dipelihara! Hidup ya biasa aja, tarik nafas dan hembuskan.

Tak ada insinuasi bahwa Yesus meminta kita menjual kulkas atau rumah dan memberikan hasil penjualannya itu sebagai sedekah. Yesus menyarankan kita supaya menjual semua milik kita! Nah, bukannya itu malah lebih parah, Rom? Ya tapi lihat ayat lanjutannya dong: buatlah bagimu pundi-pundi yang tak dapat jadi tua, yang gak bisa didekati pencuri dan ngengat! Itulah maksud dari ‘menjual semua’ tadi. Sederhana kok: menerima seluruh kepemilikan kita sebagai hak Allah. Titik!

Kalau seluruh kepemilikan itu adalah hak Allah, orang yang hatinya eling tadi senantiasa berjaga kapan Allah akan datang untuk mengambil atau memakainya. Kapan Dia datang? Ya mboh, suka-suka Dia, tetapi dari seluruh teks bisa ditangkap insinuasi bahwa Dia datang dengan personifikasi pihak yang membutuhkan bantuan lewat kepemilikan yang dipercayakan kepada kita: entah itu bakat, uang, jabatan, atau kelebihan lain yang kita miliki. Justru di situlah susahnya. Orang beriman perlu awas kapan kekayaan yang dimilikinya itu bisa jadi sarana untuk menanggapi kebutuhan orang yang miskin tadi, yang pikirannya cuma duit duit dan duit untuk hidup yang rentan terhadap maling dan ngengat ini.

Ya Tuhan, mohon kejernihan budi dan kebeningan hati untuk menangkap suara panggilan-Mu dalam diri sesama. Amin.


HARI MINGGU BIASA XIX C/2
8 Agustus 2016

Keb 18,6-9
Ibr 11,1-2.8-19
Luk 12,32-48

Posting Minggu Biasa XIX A/2 Tahun 2014: Walk the Talk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s