Maria adalah Kita

Kalau Gereja Katolik menghidupi dogma Maria diangkat ke surga, dogma itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggarisbawahi privilese Maria. Sebaliknya, dogma itu disampaikan kepada khalayak supaya dimengerti bahwa seluruh umat manusia memiliki orientasi dasar yang sama dengan yang dihidupi Maria. Tentu saja, berlaku bagi seluruh umat manusia sejauh menaruh kepercayaan terhadap hal itu, tanpa perlu meributkan apapun keyakinan agamanya. Lah, mosok orang non-Katolik mesti menaruh kepercayaan kepada dogma Katolik sih, Mo? 

Keknya saya gak bilang supaya orang non-Katolik memercayai dogma Katolik deh. Saya cuma bilang orientasi dasar yang dihidupi Maria itu tidak eksklusif milik Maria, bukan privilese Maria. Orientasi dasar itulah yang lebih penting daripada dogmanya sendiri. Dogma tentu saja mesti bersifat eksklusif, mengikat orang yang memercayainya, tetapi mesti diingat bahwa itu adalah rumusan dan kenyataan yang mau ditunjuk oleh rumusan itu tentu lebih penting dari rumusannya sendiri.

Bayangkanlah kita bicara dengan orang yang kerap memakai kata ganti nganu sehingga kita bisa jadi jengkel karenanya. Akan tetapi, sejauh nganu tadi ditangkap secara benar dan memang itulah yang hendak dikomunikasikan, ngapain juga kita mesti ribut karena nganu itu?

Ya wis, Romo mau mengomunikasikan apa sih? Saya mau sampaikan contoh tetangga saya untuk mengerti orientasi dasar tadi. Janin punya dunia kehidupannya sendiri dalam rahim ibunya. Janin yang siap pindah ke dunia lain itu, apakah dalam rahim jantungnya berfungsi? Apakah telinganya berfungsi? Hidungnya? Matanya? Kalaupun berfungsi, minim sekali fungsinya. Begitu masuk ke dunia di luar rahim ibunya, mulailah seluruh organ tubuhnya berfungsi lebih optimal. Akan tetapi, jelaslah bahwa fungsi optimal itu tak terlepas dari apa yang terjadi selama janin berada di dunia rahim ibunya. Jika di dalam rahim fungsinya sudah terganggu, bisa jadi di dunia lain kelak juga terganggu.

Mana orientasi dasarnya je, Mo? Ya keseluruhan organ yang mengarah pada dunia lain tadi. Maksudnya, keseluruhan janin itu memang disiapkan untuk dunia lain di luar rahim. Betul ada yang mesti dipotong, tetapi justru dengan pemotongan itu seluruh organ difungsikan untuk beradaptasi dengan dunia baru. Hal yang sama terjadi dengan hidup sekarang ini: antisipasi terhadap ‘dunia lain’, yaitu dunia kesatuan dengan Allah. Sebagai antisipasi, hidup beriman tidak perlu dimengerti sebagai garis linear (kalau sekarang baik, kelak dapat tempat baik, dan sebaliknya). Hidup beriman sudah dengan sendirinya merupakan penghayatan hidup bersatu dengan Allah juga dalam ruang-waktu di sini dan sekarang ini. 

Hidup macam itulah yang jadi orientasi dasar Maria, yang diangkat ke surga, seturut dogma Gereja Katolik, dan rumusan itu memang tak bisa dimengerti dengan kategori ruang-waktu (seolah surga ada di atas sehingga orang mesti diangkat). Siapa saja akan mengalami pemuliaan seperti dialami Maria jika orientasi dasar hidupnya adalah kebersamaan dengan Allah itu sendiri. Ini orientasi yang tak mudah dibangun karena pada umumnya hidup manusia itu terpecah-pecah dan galau dengan tegangan hidup-mati, roh baik-jahat, doa-kerja, dan seterusnya.

Bunda Maria, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.


HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA
(Hari Minggu Biasa XIX A/1)
13 Agustus 2017

Why 11,19;12,1.3-6.10
1Kor 15,20-26
Luk 1,39-56

Posting Tahun 2016: Ngimpi Doa
Posting Tahun 2015: Kavling Badan di Surga

Posting Tahun 2014: Tolong Doa’in Prabowo Dong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s