Terbaik Cuma Satu

Ini salah satu contoh kesalahkaprahan: satu dari pemain terhebat, salah satu peserta terbaik, dan sejenisnya. Kalau terbaik ya wis mbok satu aja gak usah dikasih embel-embel salah satu. Tapi sudahlah, ngapain juga berantem cuma lantaran kesalahkaprahan. Mengakui bahwa itu salah kaprah saja sebetulnya sudah cukup kok, perkara orang mau tobat dari kesalahannya atau tidak, ya sumonggo silakan please

Bacaan hari ini malah lebih sangar. Dari mulut Yesus, menurut catatan penulisnya, keluar ungkapan bahwa yang baik itu cuma satu. Itu gak pake imbuhan ‘ter’ jadi seolah-olah yang lainnya itu gak baik (karena yang baik cuma satu). Ini bukan soal atlet atau pertandingan, melainkan soal tindakan untuk memperoleh hidup kekal, unconditional happiness. Cuma satu yang baik untuk memperoleh hidup kekal, yaitu menuruti segala perintah Yang Satu tadi. Perintah yang mana, wong perintah-Nya itu bejibun je?

Dari situ ketahuan apa yang dimaksud Yesus. Sewaktu ditanyakan perintah mana yang mesti dituruti, ia menyodorkan bagian kedua dari dekalog (jangan membunuh, berzinah, mencuri, berbohong, menghormati ortu dan cinta sesama). Saya juga heran mengapa kok yang disodorkan bagian kedua dari dekalog; tidak disertakan bagian pertama. Tak sempat saya tanyakan karena sekeluarnya saya dari toilet Yesusnya sudah keburu pergi #halah. Akan tetapi, sebetulnya tanggapan Yesus terhadap pernyataan orang muda kaya itu adalah bagian pertama dari dekalog ya?

Ini hanya utak-atik aja ya. Kalau dekalog pertama itu disodorkan, mungkin ya pemuda kaya itu menjawab,”Oh, saya sudah menghormati hari Sabat dan menyembah hanya satu Allah.” Njuk Yesus mau menanggapi gimana dongwong ternyata seluruh perintah Allah dalam dekalog itu sudah dijalankannya? 

Pertanyaannya: apakah memang betul orang sudah menyembah hanya satu Allah atau itu cuma ritualnya saja menyembah satu Allah? Maka, tanggapan Yesus jadi masuk akal. Seluruh pemenuhan perintah Allah yang dibuat orang muda kaya itu bersifat mediocre, gada keren-kerennya, semua orang beragama yang mengklaim diri baik ya melakukan hal itu, gak cool atau awesome. Dalam konteks inilah saran Yesus masuk akal bagi semua umat beragama: cuma satu yang baik, yaitu memperlakukan harta milik sebagai sarana untuk memperoleh harta surgawi (bukan malah untuk kapitalisasi harta milik tadi sampai menumpuk-numpuk tiada faedah bagi banyak orang, terutama yang jadi kurban ketidakadilan sosial) dan kemudian mengikuti jalan seperti ditapaki Yesus.

Itu benar-benar cool dan awesome. Apa mesti jadi biarawan atau biarawati, bhiksu, santri, dan sejenisnya? Poinnya bukan itu. Kalau terpanggil untuk jadi orang-orang macam itu ya sumonggo please silakan prego, tetapi pokoknya orang mengikuti suatu lifestyle yang memungkinkannya sungguh-sungguh mengalami unconditional love atau unconditional happiness tadi. Cuma itu yang baik, yang lain-lainnya mediocre, banyak orang melakukannya entah dengan beragama atau tidak.

Ya Allah, mohon rahmat kepekaaan batin supaya kami semakin mampu mengenal panggilan sejati-Mu. Amin.


SENIN BIASA XX A/1
Peringatan Wajib S. Pius X
21 Agustus 2017

Hak 2,11-19
Mat 19,16-22

Senin Biasa XX C/2 2016: Hukum Membebaskan
Senin Biasa XX A/2 2014: Pernah Jatuh Cinta Gak Sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s