Belajar Bareng nYuk

Wealth can trick us because it promises what it cannot give. Semoga terjemahannya betul begitu. Maksud saya, kekayaan (bukan cuma uang) bisa menipu orang karena yang disodorkannya bukan sesuatu yang dapat diberikannya sendiri. Itu mirip-mirip ungkapan tentang ikan nemo: nemo dat quod non habet #apasih… Niatnya dengan uang mau menikmati kebahagiaan surga dunia, tetapi malah keba[ha]gian neraka dunia. Kasus yang masih berlangsung sekarang ini sangat berkaitan dengan hal ini dan yang mengherankan saya tak seorang pun mempersoalkannya sebagai penistaan agama! Tapi sudahlah, saya juga tak akan menuntut maling duit sebagai penista agama (jangan-jangan saya sendiri malingnya atau penista agama itu).

Kemarin saya duduk manis mendengarkan introduksi perkuliahan yang menyodorkan istilah baru meskipun sebetulnya itu adalah istilah standar dalam pendekatan studi agama. Tidak penting disodorkan di sini tetapi saya mencatat poin yang mungkin berguna untuk memaknai bacaan hari ini, yang mengindikasikan betapa sulit dan beratnya mengejar keselamatan surgawi itu. Para murid yang dekat dengan Yesus sebagai guru pun menyadari hal itu karena prosedur yang ditunjukkan itu mengandaikan orang mesti detach terhadap banyak hal, kalau bukan semua hal. Problemnya bukan bahwa sikap detach itu terlalu sulit, melainkan bahwa kebanyakan orang tidak belajar bersama liyan.

Saya mesti angkat topi kepada Gus Dur dan Alwi Shihab yang pada masanya menyodorkan keprihatinan bahwa bahkan dalam dunia akademik di Indonesia, tak ada upaya untuk mendobrak tendensi orang yang sibuk dengan urusan agamanya sendiri seolah-olah agamanya sendiri itulah yang paling agung di dunia ini. Maklum, orang menganggap agama adalah wahyu Allah, alias bikinan Allah, sehingga tak bisa diganggu gugat. Padahal, sepanjang sejarah orang bisa mengerti bahwa agama itu bikinan manusia dan paham mengenai agama sendiri terus mengalami adaptasi. Dalam keadaan seperti itu, orang tidak harus setuju dengan agama lain untuk belajar dari agama lain.

Di situ, kata wealth dalam kalimat pertama tadi bisa diganti dengan agama juga. Agama memang bisa jadi tipuan karena yang dijanjikannya itu bukan hal yang bisa diberikannya sendiri. Maka orang bahkan perlu detach terhadap agama. Detach terhadap agama tidaklah sama dengan antiagama atau tak beragama, tetapi itu adalah sikap awas bahwa keselamatan yang dijanjikan agama tidak datang dari agama, tetapi dari Allah sendiri. Bukan agama yang menyelamatkan orang, melainkan apa yang ditawarkan oleh agama itu. Lha kalau ternyata yang ditawarkan agama itu tak juga memberi kebahagiaan tanpa syarat, ngapain beragama? Itu berarti yang ditawarkannya semu. Katakan good bye saja padanya. Susahnya kan menentukan apakah yang ditawarkan agama itu semu atau tidak. Biar lebih mudah, belajar bersama saja toh?

Ya Allah, mohon terang hati dan budi supaya kami semakin mampu membedakan panggilan-Mu dari tipu muslihat dunia. Amin.


HARI SELASA BIASA XX A/1
Pesta Wajib S. Perawan Maria Ratu
22 Agustus 2017

Hak 6,11-24a
Mat 19,23-30

Selasa Biasa XX C/2 2016: Lagi-lagi Duit
Selasa Biasa XX B/1 2015: Ada Jalan ke Surga untuk Moge?
Selasa Biasa XX A/2 2014: What’s Wrong with Being Rich?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s