Ayo Ngguyu

Mengapa orang baik bisa mati ngenes atau nelangsa dan orang jahat malah bisa mati dalam ketenangan? Ini dagelan dan mungkin begitulah dagelan Allah dan tak banyak orang bisa tertawa karena dagelan itu atau, sebaliknya, tertawa karena dagelan itu tapi tertawa thung alias sinting. Ini wajar karena menertawakan dagelan Allah itu tak jauh berbeda dengan menertawakan diri sendiri dan memang relatif tak banyak orang bisa menertawakan dirinya sendiri.

Salah seorang yang mampu menertawakan dirinya sendiri saya jumpai di sebuah tempat pencucian motor. Saya tidak kenal orang itu tetapi sudah beberapa kali saya amati bagaimana ia bekerja membersihkan motor para pelanggannya. Dulu, sewaktu pertama kali saya cuci motor di tempat itu, saya tanya apakah saya boleh mencucikan motor saya di situ. Itu pertanyaan bodoh dari orang tolol, tetapi orang tolol pun punya latar belakang pemikiran tertentu. Motornya itu keluaran tahun 1993, sementara motor-motor lain yang sedang dicuci adalah motor-motor kêmpling bin keren abad XXI. Dia punya kekhawatiran bahwa motornya akan diperlakukan tidak adil seakan-akan di situ akan ada skandal BPJS-M alias Badan Penyelenggara Jaminan Sepeda Motor. Namanya juga orang tolol.

Ada beberapa orang yang membersihkan sepeda motor dan saya amati yang melakukan finishing. Sewaktu dia melihat motor keren, ia tampak sumringah, bersinar matanya dan dia membersihkan serta memoles bagian demi bagian motor dengan hati-hati seakan-akan itu adalah motornya sendiri dan setelah selesai dengan finishing itu dia tampak puas dan dengan senang hati memberi kode kepada pemiliknya bahwa motornya sudah selesai dicuci. Nah, sewaktu dia tiba pada motor saya, dia tidak terlihat begitu excited tetapi yang menarik dan mengagumkan saya ialah bahwa ia melakukan finishing juga dengan teliti, bahkan sampai ruji-ruji dilapnya satu per satu. Saya tidak mendapat kesan bahwa ia memoles motor saya seakan-akan itu adalah motornya sendiri, tetapi dia memoles motor saya seakan-akan dia memoles Honda CBR 150R atau Suzuki GSX R150 atau Yamaha R15 keluaran baru!

Yang penting buat saya ialah bahwa orang itu happy dan tampak begitu sepenuh hati membersihkan setiap motor, apapun wujud atau penampilannya. Ia melakukan pekerjaannya sebagai aktualisasi dirinya sehingga ia memperoleh kepuasan. Njuk kapan dia menertawakan dirinya sendiri Mo? Barangkali sewaktu dia memoles motor keren seolah-olah seperti motornya sendiri itu… Dia tentu sadar bahwa itu bukan miliknya, tapi toh tetap bergembira atas milik orang lain juga, bukan malah iri hati.

Orang beriman tidak sekadar mengaktualisasi diri, ia mengaktualisasi keadilan Allah yang bisa bikin keki atau iri hati orang beragama tanpa iman, yaitu orang beragama yang hatinya senantiasa dipenuhi komparasi antara apa yang diperoleh orang lain dan diperoleh dirinya, apa yang terjadi pada orang lain dan apa yang terjadi pada dirinya demi kemuliaan dirinya sendiri. Saya kira tak ada salahnya membuat komparasi sejauh orientasinya adalah menemukan mana yang lebih baik untuk mengaktualisasi kemuliaan Allah. Ciyeh...

Ya Allah, mohon rahmat ketulusan hati supaya kami mampu mengaktualisasi keadilan-Mu. Amin.


HARI RABU BIASA XX A/1
23 Agustus 2017

Hak 9,6-15
Mat 20,1-16a

Rabu Biasa XX B/1 2015: Apa Upahnya Kerja?
Rabu Biasa XX A/2 2014: Just Do What You Do!

2 replies

  1. halo romo

    bagaimana kami tahu kalo kami memuliakan Allah? apakah tolok ukurnya ajaran Tuhan Yesus? apa Allah yang sungguh Mulia harus di Muliakan oleh manusia biasa? paradok ya?.. trimakasih bila bersedia menanggapi .. salam

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s