Jika keberatan terhadap pemuka agama berpolitik datang dari kaum tak terpelajar, saya bisa memahaminya. Akan tetapi, belakangan saya mendapat keterangan dari mahasiswa tentang kritik kelompok mahasiswa terhadap pemuka agama yang cawe-cawe dalam politik: sudah sepantasnyalah pemuka agama itu mengurusi agamanya, tak usah berpolitik-politik segala! Dengan berat hati saya mesti mengubah cara berpikir saya: kelompok mahasiswa tidak identik dengan keterpelajaran.
Sebagai mahasiswa, saya puyeng dengan rumitnya ilmu agama yang saya pelajari. Sebagai dosen, saya mengerti mengapa mahasiswa malas membaca. Juga dalam diri saya, tidak otomatis kualitas terpelajar itu bisa dilekatkan. Kadang kala begitu masuk ke persoalan yang sophisticated, saya tak punya energi untuk menggumulinya. Di situ, saya menjadi tak terpelajar.
Maka dari itu, kalau ada orang berkomentar apalagi kritik seperti disampaikan sekelompok mahasiswa itu, dalam hati saya cuma berceloteh, “Ya’ ya’o kowe ki ngerti agama lan politik, leeee leeee!” Piye jal, baca kitab suci saja mungkin kelira-keliru dan plonga-plongo, kisah nabi juga tak ngerti, doa juga taunya cuma ritual, bisa-bisanya memandatkan pemuka agama untuk tak cawe-cawe politik! Orang-orang Kristen/Katolik seperti ini, saya kira, tak mengerti kelompok Saduki dan sepak terjang mereka di pusat kekuasaan Bait Allah di Yerusalem. Kalau mereka tahu dan menemukan mengapa Yesus bikin gerakan yang ditentang kelompok Saduki dan pemuka agama Yerusalem, mereka akan melihat relasi agama dan politik secara berbeda. Kalau tetap keukeuh supaya pemuka agama tak omong-omong soal politik, ya itu tadi… di negeri ini, kemahasiswaan itu memang tak identik dengan keterpelajaran.
Mungkin ada juga yang berkomentar bahwa rohaniwan/wati itu cukuplah urusi kerohanian, tak usah ikut-ikutan politik. Emangnya komentator ini tahu kehidupan rohaniwan/wati? Emang tau dari mana rohaniwan/wati dapat makan, pakaian, duitnya? Emang tau sebagian rohaniwan/wati ini pernah jadi korban korupsi dan kehilangan milyaran rupiah untuk hidup mereka? Emang tau gimana mereka mengelola lembaga layanan publik dan harus menanggung defisit karena pemerintah gak becus mengelola asuransi? Emang boleh serumit itu hidup rohaniwan/rohaniwati?
Saya tak akan bertele-tele dengan argumentasi: bahkan meskipun di blog ini saya yakinkan Anda bahwa tak ada hubungan logis antara agama dan moral, adalah kewajiban pemuka agama untuk menyuarakan moralitas, termasuk jika itu ada dalam matra etika politik justru karena mereka pemuka agama. Tentu, saya harus akui, tidak semua pemuka agama berwawasan politik, itu mengapa sulit baginya menyuarakan moralitas lebih dari sekadar nasihat manis untuk rajin menabung, rukun, rela berkorban, forgive-forget, dan damai.
Saya tidak ahli politik, tetapi saya paham betul dimensi politis agama yang menuntut pemukanya berpolitik: bukan demi kekuasaan, melainkan sebagai gerakan moral. Di mata mereka yang tak terpelajar dan termakan propaganda dan berada di ambang kultus individu, gerakan moral ini akan ditanggapi seturut kepentingan status quonya.
Jadi, saya harap Anda tidak naif: betul 271 trilyun rupiah itu sudah mulai dibongkar, tapi janganlah berpikir pembongkaran itu adalah indikator bahwa negara serius menangani korupsi. Itu lain perkara karena korupsi bukan cuma yang ketahuan. Nyawa teman sekelas saya terkorupsi di tahun 1998 dan sampai sekarang kami tak ada yang tahu di mana dia berada, masih join dengan badannya atau sudah pindah ke kubu sebelah juga.
Saya jadi ingat salah satu hadis Nabi Muhammad yang dicatat oleh Muslim kurang lebih begini ceritanya: Saya sedang berjalan bersama Nabi saw, ketika beliau melewati beberapa orang yang ada di atas pohon kurma. Beliau bertanya, “Apa yang mereka lakukan?” Mereka menjawab: “Menyerbukkan jantan ke betina.” Beliau bersabda, “Aku tidak melihat hal itu bermanfaat.”
Ketika mereka diberitahu tentang apa yang dikatakan Nabi, mereka menghentikan apa yang mereka lakukan. Kemudian, ketika pohon-pohon itu menjatuhkan buahnya sebelum waktunya, Nabi diberitahu tentang hal itu. Beliau bersabda: ‘Jika itu baik bagi mereka, mereka harus melakukannya. Saya hanya berspekulasi. Jadi, maafkanlah aku. Tetapi jika saya mengatakan sesuatu tentang Tuhan, maka terimalah karena aku tidak akan pernah berbohong tentang Allah.” Penulis hadis lain menambahkan kata-kata Nabi begini: “Kalian lebih mengetahui urusan duniawi kalian daripada aku.”
Cerita itu saya sampaikan untuk mengatakan bahwa bukanlah perkara gampang memisahkan urusan duniawi dengan agama. So, tidak sesederhana itu juga memisahkan agama dan politik.
Akan tetapi, kalau itu perkara moral, etika, perkara ketuhanan, para Nabi tak akan berspekulasi. Mereka dengan amat yakin menyuarakan keadilan, kebenaran, dan untuk itu mereka bisa mempertaruhkan nyawa juga.
Dengan begitu, saya kira tak perlu protes bahwa Pak Romo atau Pak Uztad berpolitik, kecuali jika secara jelas mereka berpolitik untuk memperoleh kekuasaan.
Kalau Anda protes terhadap orang-orang yang menyuarakan moralitas politik seperti ini, Anda perlu mawas diri barangkali ada prasangka atau sesat paham, mungkin ada propaganda favorit, mungkin Anda punya kultus individu. Mungkin keyakinan-keyakinan palsu itu datang dari sekeliling Anda: dari mana Anda memperoleh uang, dari mana atau siapa Anda memperoleh izin usaha, kelompok mana yang Anda perjuangkan, apakah ideologi yang Anda serukan itu merujuk pada keadilan atau muncul dari kekhawatiran alias ketakutan bahwa Anda jadi bagian dari mereka yang alergi terhadap keadilan.
