S T Y

Published by

on

Fresh from the oven: Pagi ini saya terbangun oleh mimpi yang menyentak. Mimpinya sederhana. Saya diminta memimpin perayaan Ekaristi secara dadakan seperti tahu bulat dan sampai bacaan Injil semua terlihat kacau karena teksnya begitu banyak typo sehingga bahkan untuk membaca pun, saya terbata-bata. Mungkin saya mangkel. Secara spontan saya minta salah seorang mantan frater berkhotbah, sementara saya duduk di bangku umat.

Pertanyaan mantan itu menarik saya: bagaimana iman seseorang menyelamatkannya. Akan tetapi, ya pertanyaannya saja yang menarik, jawabannya tidak saya temukan dalam khotbahnya. Saya lupa bagaimana kejadiannya, setelah mantan itu berkhotbah di mimbar, giliran anak SD yang berkhotbah dengan mimbar seluas gereja. Ia mondar-mandir ke sana kemari.

Gayanya berkhotbah menarik saya: ia memeragakan fabel, seekor binatang mungil berjumpa dengan sosok predator megalomania yang mengerikan. Namanya saya rahasiakan di sini. Rupanya anak ini melanjutkan khotbah mantan tadi, dan dia merumuskan jawaban atas pertanyaan mantan tadi dengan kisah fabel itu. Pada hewan yang unyu-unyu itu keselamatan terjadi dengan hati yang besar, yang mengatasi sifat megalomania predatornya.

Setelah anak itu selesai berkhotbah, saya maju ke mimbar, dan ketika saya baru mulai omong, saya terbangun. Sudah jam empat pagi, kesiangan deh….
Meskipun kesiangan, buah yang saya petik dari mimpi tadi tak terlambat-terlambat amat. Untuk menjawab pertanyaan mantan dan merumuskan ulang penjelasan anak SD tadi, saya memakai istilah yang disodorkan guru rohani zaman jebot: jiwa besar dan (hati yang) rela berkorban.

Saya runut ke belakang apa yang terjadi pada saya. Yang paling dekat adalah kekalahan tim U-23 dari Guinea. Sekitar dua puluh jam sebelumnya, Bayern Muenchen kalah dari Real Madrid. Dua pertandingan yang secara emosional memikat saya, tetapi hasilnya tidak memenuhi harapan saya. Yang melegakan ialah, bukan kekalahan yang jadi fokus saya, melainkan prosesnya.

Jika dalam proses ada spirit jiwa besar dan rela berkorban, niscaya tak ada lagi kekalahan yang menjadi luka atau kegagalan yang jadi derita. Gampangannya, kalau Anda sudah melewati tragedi besar, proses keanehan, kecurangan, kelalaian, kesalahan, kegagalan kecil tidak lagi berbunyi bahkan meskipun hasilnya sangat merugikan atau memukul hidup Anda. That’s life.

Betul, saat saya melihat tayangan ulang kedua pertandingan itu, memang ada kekeliruan di sana-sini, tetapi saya sudah terlanjur menikmati proses pertandingannya sendiri. Menang kalah jadi tak lagi relevan. Bahwa ada yang mengklaim kecurangan itu nyata atau pihak yang kalah tak punya sikap legawa, itu bergantung pada sudut pandang dan kepentingannya juga.

Celakanya, kalau pihak-pihak yang terlibat itu tak menyadari kepentingannya dan bagaimana kepentingan itu direalisasikan, apakah prosesnya mengikuti SOP atau malah menentukan SOP sendiri. Taruhannya menjadi terlalu tinggi dan korbannya selalu adalah rakyat jelantah yang rentan terhadap program-program populis ala bansos atawa makan siang gratis. Terhadap mereka ini, spirit jiwa besar dan rela berkorban jadi naif, dan penjajahan di muka bumi ini tak pernah dihapuskan, meskipun menurut konstitusi harus dihapuskan.

Andai saja rakyat jelantah itu semua seperti Shin Tae-yong, yang berani bersuara sampai dikartu merah…

Previous Post
Next Post