Panggung

Published by

on

Ada tiga komponen untuk menilai moralitas seseorang: motif bin niat, cara berproses, dan akibat yang ditimbulkannya. Anda bisa menang pilkadal (akibatnya) dengan motivasi luhur (memajukan perkadalan) tetapi caranya tidak elok dengan aneka manipulasi dan intimidasi. Sebaliknya, Anda bisa juga menang pilkadal (hasilnya) dengan motivasi bulus (menguasai perkadalan) dan caranya begitu halus dan mulus. Alternatifnya, bisa jadi Anda kalah pilkadal (akibatnya) meskipun niat dan cara Anda sangat tulus. Apakah kalau akibatnya jelek berarti moralitasnya juga jelek?

Nah, di situ, kalau Anda jeli, contoh yang saya sodorkan tidaklah konsisten: menang kalah pilkadal jelas bukan perkara baik-buruknya moralitas. Yang seharusnya menjadi contoh tentulah akibat moralitasnya. Dengan demikian, yang perlu ditinjau bukan menang-kalah pilkadal Anda, melainkan akibat menang-kalah pilkadal itu terhadap moralitas sosial: kalau Anda menang pilkadal dengan niat dan cara yang tulus, masih perlu dikaji apakah akibat kemenangkan pilkadal Anda itu membuat hukum semakin tertata baik, mentalitas penjajah semakin berkurang, atau mental korup semakin redup. Kalau Anda menang pilkadal dan orang-orang Anda semakin tak karuan mengemplang rakyat, moralitas yang Anda bangun tak punya legitimasi yang valid.

Menurut teks bacaan pertama hari ini, jika tiga komponen itu konsisten bermuara pada kemuliaan Pencipta, bisa dijamin moralitas yang Anda bangun sesuai dengan yang didambakan manusia pada umumnya. Komponen yang mengerucut pada pemuliaan atau glorifikasi diri membuyarkan dambaan seperti itu, mulai dari perkara sampah, lalu lintas, sampai limbah tambang. Teks bacaan utama hari ini, seperti kemarin, mengafirmasi hukum Taurat soal perzinahan, meradikalkannya pada niat zinah, dan menyodorkan aplikasi situasional yang perlu disesuaikan seturut konteksnya.

Artinya, Anda tak perlu mencungkil mata karena jelalatan, tetapi tata saja supaya mata tak jelalatan. Anda tak perlu juga memenggal tangan yang suka menyesatkan, tetapi kelola saja supaya tangan tak suka menyesatkan. Baik menata mata maupun mengelola tangan, tak mungkin dilakukan oleh jiwa yang haus glorifikasi diri, yang tiada henti cari panggung, yang tangga pansosnya tak kunjung berujung. Semoga Anda dan saya dibebaskan dari mata dan tangan yang menyesatkan. Amin.


Jumat Biasa X C/1
PW S. Antonius dari Padua
13 Juni 2025

2Kor 4,7-15
Mat 5,27-32

Posting 2017: Harta di Kerapuhan

Previous Post
Next Post