Harta di Kerapuhan

Mungkin gak orang menyimpan perhiasan muahual dalam sebuah vas tanah liat, atau jangan vas deh, susah ambilnya, katakanlah dalam kendi yang kalau jatuh dari meja saja hancur berkeping-keping? Jawabannya gampang: mungkin. Saya tak ingat apakah pernah saya sampaikan bahwa ada seorang misionaris yang mengunci sepeda antiknya dengan mengaitkannya pada pohon pepaya setinggi dua meter dan begitu hendak mengambil kembali sepedanya terkejutnya bukan kepalang: pohon pepaya itu patah terbelah dua… dan tentu saja sepedanya tak ada lagi di situ.

Paulus mengibaratkan hidup ini sebagai harta berharga yang disimpan dalam bejana tanah liat, nan rapuh. Kenapa? Ya memang begitu kenyataannya. Saking rapuhnya, orang bisa dengan mudah terjerumus dalam fatalisme: mau berbuat baik atau berbuat buruk toh sama aja ujung-ujungnya mati dan kematian tak pandang bulu, bisa menjemput orang sakit atau sehat, tua atau muda, perokok aktif atau pasif, pengguna narkoba atau anggota BNN, orang beriman atau atheis, orang beragama atau tidak, dan seterusnya. Kalau gitu, ngapain meribetkan diri untuk memperhatikan ekologi, menjunjung moral, menghargai aturan dan seterusnya? Yang simple ajalah, gak usah sok menghindari korupsi dan sejenisnya! Ini fatalisme yang anti terhadap standar hidup bersama yang ‘baik’, yang umumnya disepakati orang. Tentu ada fatalisme yang ke arah sebaliknya, yaitu mereka yang terindoktrinasi oleh terorisme, misalnya: hidup mati kan di tangan Tuhan, ya udah ancurin aja semua yang melawan, kalau demi itu aku pun mati, malah bagus toh langsung masuk surga!

Apakah wacana yang disodorkan teks hari ini juga bernuansa fatalisme: kalau mata kananmu menyesatkan, cungkil aja; kalau tanganmu menyesatkan, penggal dan buanglah?

Mungkin saja begitu, kalau yang baca orangnya fatalis, seperti teroris tadi. Orang fatalis biasanya sulit melihat kemungkinan lain bagi hidupnya sendiri. Orang ini tak bisa keluar dari “keharusan”, keukeuh, dan mungkin punya dalih macam-macam di hadapan pertanyaan ‘Apa memang harus begitu?’ Kalau yang baca teks itu bukan orang fatalis, tentu nuansanya berbeda.

Loh, kalau begitu bunyi teks itu akhirnya bergantung pada siapa yang baca ya, Mo? Haha… lha kok malah hermeneutika lagi. Saya bilang itu mungkin saja dibaca begitu kalau orang cuma mau nggugu karêpé dhéwé alias memperkosa teks. Penutur teks itu sendiri bukan orang fatalis karena dia mengambil kematian sebagai konsekuensi prioritas nilai yang bisa dipertanggungjawabkan. Ia tidak asal manggut-manggut saja terhadap perintah jangan berzinah atau berilah surat cerai. Ia menerawang lebih jauh lagi dari perintah itu: dari hati yang koruplah, yang tak murni atau tulus, terjadi aneka macam problem; maka upayakanlah supaya hati itu tak korup. Untuk itu orang perlu membersihkan bagian-bagian kerapuhan yang menyebabkan keutuhan pribadi manusia ambrol.

Paulus tidak mengklaim kekuatan dirinya dan malah mengibaratkan hidup ini bagai harta dalam bejana tanah liat. Artinya, hidup bersama Allahlah yang berharga dan perlu dijaga juga dalam kerapuhan hidup orang. Repotnya, tidak semua orang seperti Paulus yang menyadari kerapuhannya.

Tuhan, mampukan kami menjaga karunia-Mu dengan segala keterbatasan kami. Amin.


Jumat Biasa X A/1
16 Juni 2017

2Kor 4,7-15
Mat 5,27-32

Jumat Biasa X C/2 2016: Gak Ada Tuhan dalam…
Jumat Biasa X A/2 2014: Ngapain Sih Berdoa Segala?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s