Ngapain Sih Berdoa Segala?

tomba antonio1Pernah ngantri untuk berdoa di samping makam Santo Antonius dari Padua ini? Foto ini tertanggal 20 November 2012, jam 06.51 pagi, tampaknya bukan waktu favorit untuk berkunjung. Jika sudah ramai, antriannya tak beda jauh dari antrian masuk tempat konser rock; bahkan meskipun sedang berlangsung misa, pengunjung yang tak ikut misa tetap berdesak-desakan untuk sekadar meletakkan telapak tangan pada sisi makam Santo Antonius Padua. Jika dianggap terlalu lama berhenti, orang akan ditegur, dipersilakan berjalan meninggalkan tempat itu.

Mengapa banyak orang datang berbondong-bondong ke situ? Tentu ada banyak alasan sebanyak orang yang berbondong-bondong itu, dari yang suci abis sampai yang sangat oportunis. Kiranya hanya Tuhan dan orang yang bersangkutanlah yang tahu alasan sejatinya ia berdoa atau berziarah.

Terlepas dari motivasi seseorang yang datang berbondong-bondong itu, sebaiknya ia memperhatikan apa yang disodorkan bacaan pertama hari ini: Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Kehadiran Tuhan tidak terletak pada kekuatan eksternal yang dahsyat atau spektakular.

Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Pada saat itulah Elia menangkap kehadiran Allah: justru diiringi oleh angin sepoi-sepoi basa.

Mengandalkan peranti institusi yang kokoh semata (ajaran Gereja, hirarki, dokumen resmi, apalagi aturan liturgi) tidak memampukan orang menangkap kehadiran Allah. Orang mesti masuk ke dalam kelembutan hati bak bunyi angin sepoi-sepoi basa sebelum ia menangkap kehadiran Tuhan.

Tidak mengherankan, kotbah Yesus dalam bacaan Injil pun mengundang pendengar untuk meletakkan kriteria bukan pada apa yang kasat mata, melainkan pada apa yang tersurat dalam hati. Kemurnian hati orang jauh lebih berbunyi dan kondusif bagi perjumpaan dengan Tuhan daripada doa yang muncul dari rigiditas orang terhadap aneka perintah dan larangan agama.

Jadi? Doa dengan ziarah tentu saja oke, tetapi kalau modalnya hanya mental ‘berbondong-bondong’, doanya pun akan mental. Umat beriman mesti menemukan dalam ‘kerumunan’ bunyi angin sepoi-sepoi basa sehingga ia mengalami perjumpaan dengan Allah yang maharahim. Itu mengapa dalam berdoa pun orang dituntut untuk lebih dulu mengenali dirinya sendiri, masuk di kedalaman hatinya karena di situlah TKP (tempat kejadian perjumpaan) dengan Tuhan.


JUMAT BIASA X A
Peringatan Wajib St. Antonius Padua
13 Juni 2014

1Raj 19,9a.11-16
Mat 5,27-32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s