Gak Ada Tuhan dalam…

Tak ada Tuhan dalam angin besar. Tak ada Tuhan dalam gempa. Tak ada Tuhan dalam api. Tak ada Tuhan dalam liturgi, eh… (mèlu payu aja nih posting!) Tiga kalimat pertama itu bisa ditelusuri dalam teks bacaan pertama hari ini. Tentu teks aslinya tidak berbunyi begitu, seolah-olah jadi pernyataan umum bahwa Tuhan tak ada dalam angin besar, gempa, api, dan liturgi (halah…). Sekali lagi, Tuhan itu ada di mana-mana, njuk kenapa mesti pake’ judul Gak Ada Tuhan dalam titik-titik? Mau bikin penasaran ya? Ya enggaklah, emangnya lu kira gua arwah?

Teks Injil hari ini mungkin relevan untuk yang sedang berpuasa: kalau hatimu mlengse alias slenco alias tergelincir, ungkapan luar tak mangkus, puasa pun cuma jadi modus. Trus, apa hubungannya dengan bacaan pertama? Mari letakkan hati sebagai penghubungnya. Kisah Elia kiranya bukan kisah cinta dua insan yang berkejar-kejaran dalam gua. Bukankah Tuhan bisa saja langsung omong dan gak perlu pake’ introduksi api, gempa, angin dahsyat segala? Kita ingat, Kitab Suci bukanlah reportase wartawan. Kisah nabi Elia ini ‘cuma’ mau mengatakan bahwa Elia mendengar suara Allah pada saat angin sepoi-sepoi. Itu gak bisa jadi alasan untuk mengatakan bahwa Allah tak ada dalam gempa, bukan?

Seorang anak dinasihati orang tuanya supaya menjauhkan diri dari perempuan yang baru saja dikenalnya karena anak ini mau masuk seminari menengah. Seminari menengah adalah tempat pembinaan calon pastor, setara dengan SMA. Si anak berusaha mengerti kenapa perkenalan dengan perempuan itu diharamkan, dan orang tua menjelaskan background perempuan itu dan dampak buruknya terhadap si calon seminaris ini. Si anak menjelaskan bahwa dia tak punya perasaan atau niat apapun selain berteman, tetapi orang tuanya keukeuh bahwa relasi itu riskan.

Karena tak ada titik temu, tensi dialog meningkat. Sang ayah mulai memberikan ancaman bahwa kalau si anak tak mau mendengar nasihatnya, sebaiknya tak usah menganggapnya sebagai orang tua. Si anak naik pitam (seperti apa sih pitam itu? Bahan bakarnya apa ya?) dan menggebrak meja sembari berteriak,”Kalau saya keluar dari seminari gara-gara perempuan, saya tak akan kembali ke rumah, tak usah anggap saya sebagai anak!” Lalu anak ini cepat-cepat masuk kamar dan menangis di tempat tidur (dan njothak orang tuanya selama seminggu, sebelum dia butuh uang untuk jajan).

Dari mana tangisan anak itu? Dari hatinya, yang menunjukkan kebenaran. Betul bahwa ia tidak keluar dari seminari gara-gara perempuan, betul bahwa dia tak punya ‘rasa’ terhadap perempuan yang baru dikenalnya, tetapi kebenaran yang disampaikannya dengan menggebrak meja kepada orang tuanya itu telah menusuk hatinya sendiri. Di kedalaman hatinya itulah ada suara yang mengusiknya: kekerasan membuyarkan kebenaran yang hendak disampaikannya. Betul ia tidak keluar dari seminari, tetapi semata karena ideologi kakunya. Betul ia tak punya ‘rasa’ terhadap perempuan itu, dan kalau begitu, kenapa ia mesti ngotot harus tetap boleh bergaul dengan perempuan itu dan mesti menggebrak meja kepada orang yang sejak kecil membesarkannya?

Tuhan, buatlah hati kami berangin sepoi-sepoi supaya dapat mendengarkan suara-Mu. Amin.


JUMAT BIASA X C/2
10 Juni 2016

1Raj 19,9a.11-16
Mat 5,27-32

Posting Tahun 2014: Ngapain Sih Berdoa Segala?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s