Salaman Eaaaa….

Saya bukan penggemar balapan MotoGP, apalagi kalau Valentino Rossi tak ikut balapan atau ikut tapi di lap awal sudah terjerembab, mending makan es grim. Sejak perseteruan dengan Marquez dan Lorenzo tahun lalu saya menaruh simpati pada Rossi; mungkin karena dia berdarah Italia dan untuk beberapa tahun saya diberi kesempatan menjejak tanah tumpah darahnya. Pokoknya, pada balapan Minggu kemarin saya terpesona pada pemandangan ketika seusai pertarungan perebutan tempat pertama, Rossi datang menyalami Marquez. Ini pasti jadi berita, dan memang sudah jadi berita.

Itu simbol rekonsiliasi yang agak mengejutkan saya dan sedikit banyak menambah simpati saya. Tentu bisa dicari-cari alasannya: ya itu karena kebetulan aja Rossi yang menang dalam duel dan Lorenzo KO pula, coba kalau dia kalah! Bisa juga sih isyarat itu ditangkap sebagai basa-basi dan sebetulnya belum ada rekonsiliasi antara Rossi dan Marquez. Sumonggo lho, silakan! Saya toh juga tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi dalam batin Rossi.

Rekonsiliasi memang tak bisa dibuat dengan penghayatan keagamaan ala pemuka agama seperti kelompok Farisi dan ahli Taurat yang hobi mengafirkan orang lain yang tak sejalan dengan pikiran mereka. Rekonsiliasi yang benar juga bukan perkara politik untuk menjaga kepentingan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Kalau rekonsiliasi dipahami dalam kerangka politik seperti itu, hasilnya bisa kita lihat misalnya di Timur Tengah yang sejak zaman baheula terus bergejolak dan gencatan senjata hanya berarti time-out. Perang jalan terus sebelum kepentingan masing-masing pihak dipenuhi.

Loh, bukannya di teks Injil juga disodorkan suatu politik kepentingan, Mo? Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara (Mat 5,25 ITB) Itu kan artinya orang mesti berdamai supaya lawan tidak mengusik kita dan bahkan menjebloskan kita ke penjara? Apa itu bukan politis?

Iya ya, sepertinya politis banget. Akan tetapi, mungkin perlu kita lihat bahwa kata hubung ‘supaya’ tidak mutlak harus dipahami sebagai petunjuk motivasi tindakan orang. Bisa juga dilihat sebagai salah satu implikasi logis suatu tindakan. Selain itu, ungkapan ‘berdamai’ tampaknya dalam bahasa sononya lebih berarti sebagai ‘berteman’, yang sudah dengan sendirinya mensyaratkan perdamaian. Pertemanan yang sejati jelas tidak semata politis. Dalam pertemanan itu sendiri ada nilai yang lebih luhur daripada nilai instrumental (saling memperalat). 

Pertemanan yang mengatasi nilai instrumental ini dalam teks hari ini diletakkan dalam wacana tentang hidup keagamaan yang lebih baik daripada hidup keagamaan pemuka agama yang munafik. Ini membutuhkan rahmat, keterbukaan kepada Roh. Roh lagi, Roh lagi. Mau apa lagi, memang tanpa Roh yang begini ini, rekonsiliasi gak jalan je. Roh Allah itu yang menguatkan hati orang untuk meminta dan memberi pengampunan.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat memberi dan memohon pengampunan dari sesama. Amin.


KAMIS BIASA X
9 Juni 2016

1Raj 18,41-46
Mat 5,20-26

Posting Tahun 2014: Ojo Dumeh