Kamu Jahat

Saya pernah berkorespondensi dengan seorang ahli politik komparatif yang bernama Arend Lijphart dan hasil korespondensi dengannya semakin meyakinkan saya akan kebenaran yang disodorkan bacaan-bacaan hari ini. Korespondensi dengan Lijphart sendiri menggarisbawahi pentingnya sikap kooperatif lebih daripada sikap oposan dalam masyarakat majemuk. Mbok sehebat apapun hukum yang diproduksi lembaga legislatif, kalau sikap dasar elit politiknya bercorak adversarial, hukum itu bisa diplintir sana sini dan ahli hukum jadi laku. Sumonggo mencari contohnya sendiri, entah di Jakarta atau Yogyakarta.

Trus, apa hubungannya dengan bacaan-bacaan hari ini ya? Teks bacaan Injil hari ini cuma bilang hukum Taurat takkan diutak-atik dan Yesus malah hendak menggenapinya. Teks bacaan pertama menceritakan ‘pertandingan’ antara nabi-nabi Dewa Baal dan nabi Elia untuk menyalakan kurban bakaran tanpa korek api. Apa hubungannya dengan teori Arend Lijphart tadi jal?!

Dalam posting Tak Ada Tuhan dalam Liturgi kemarin sudah ditunjukkan perlunya hukum horisontal untuk kebaikan tatanan sosial, entah yang bersifat religius ataupun yang bersifat profan. Hukum kiranya dimaksudkan untuk menyodorkan yang baik dan menghindari yang jahat bagi kemanusiaan; memerintahkan hal yang mengembangkan kehidupan dan mencekal hal yang menyurutkan hidup. Akan tetapi, justru karena manusia itu punya semacam obsesi pada kebebasan, dia bisa jadi galau sendiri dan malah membolak-balik mana yang baik dan mana yang buruk. Di situlah letak problemnya: hukum yang diperlukan manusia untuk menata hidup bersama (tataran horisontal) itu pun bisa disalahgunakan oleh kekuasaan, baik si penguasa maupun yang hendak melawan penguasa.

Yesus tanpa keraguan menegaskan pentingnya hukum, tetapi mengundang orang supaya membebaskan diri dari perlindungan hukum semata, yang bisa jadi tameng egoisme atau gengsi orang. Kesempurnaan hukum tidak terletak pada rumusannya (yang selalu bisa senantiasa disempurnakan) tetapi pada cinta yang melandasinya. Kesempurnaan hukum berasal dari cinta Allah sendiri, yang menyambar kurban bakaran nabi Elia dengan api, bukan dari permainan politikus busuk nan oportunis. Pagi ini mendukung A, siang nanti menjelek-jelekkan A, sorenya memilih B.

Mereka yang tak punya cinta cenderung melihat hukum sebagai paksaan belaka, atau sebaliknya, sebagai sesuatu yang harus dilawan. Sebaliknya, mereka yang punya cinta, mengerti apa yang diminta oleh hukum dan lebih dari itu, mengerti apa yang diminta cinta yang mengatasi rumusan hukum. Tanpa cinta, hati orang terpaut pada rumusan dan jadi bulan-bulanan kaum oportunis yang memegang kekuasaan: jahat, jahat, jahat.

Ya Tuhan, buatlah hati kami semakin peka terhadap topeng-topeng yang kami kenakan sehingga kebaikan-Mu sungguh merebak dalam masyarakat kami. Amin.


Rabu Biasa X C/2
8 Juni 2016

1Raj 18,20-39
Mat 5,17-19

Posting Rabu Biasa X B/1 Tahun 2015: Taat, tapi Robot

2 replies

  1. Hello there,
    I am glad and so blessed found your blog. I strongly believe that you are from Indonesia. I was born in Indonesia too but unfortunately didn’t stay in Indonesia again. . Well you know, though I am quite difficult to read your post but I do believe your posts are awesome. Nice to know blogger from my home town. God bless 🙂
    Karina.

    Like

    • Dear Karina,
      Thank you very much. It seems to me that you really have a strong belief, including your belief about my posts, thanks to that ‘strange’ language, hehe. Why don’t you spend sometime in Surabaya for refreshing your Indonesian language? Just kidding. God bless you too.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s