Hidup Kebangeten

Siku lengan saya pernah tiba-tiba gatal seperti digigit serangga ketika saya mengenakan baju yang rupanya sudah lebih dari setahun tak saya pakai (maklum sudah kesempitan). Teringatlah saya pada kata-kata seseorang yang hidup di awal abad ke-4 Masehi: bajumu yang lama tersimpan di almari adalah milik mereka yang telanjang… Tak hanya itu, ia juga mengatakan bahwa makanan yang kamu buang adalah makanan mereka yang kelaparan, dan uang yang kamu sembunyikan (di Panama atau di bank mana gitu) adalah kekayaan orang miskin, dan karya amal yang tidak kamu lakukan adalah juga ketidakadilan yang kamu lakukan. Wah…

Kok bisa-bisanya dibilang baju yang saya punya (meskipun pemberian orang lain juga sih) itu milik mereka yang telanjang?
Sudahlah, tak perlu rasionalisasi, akui saja hidupmu itu superfluous, Romo. Orang yang berkata-kata itu tadi adalah Santo Basilius. Ini bukan soal bahwa yang dikatakan Santo itu pasti benar, melainkan bahwa kata-katanya itu tak terpahami jika kita cuma hendak menalarnya dengan otak.

Kata-kata itu bisa dipakai sebagai trigger untuk memahami dua teks hari ini. Bacaan pertama merupakan kisah tentang janda miskin yang tinggal punya segenggam tepung untuk membuat roti sebelum ia dan anaknya akan mati kelaparan. Kok ya ndelalahnya Elia meminta makan pada saat itu dan janda itu akhirnya memberikan makan juga. Tentu saja, itu dimungkinkan karena janda itu menaruh kepercayaan kepada kata-kata Nabi Elia; tepung minyaknya memang tak habis setelah membuatkan roti untuk Elia.

Bacaan kedua menegaskan identitas para murid sebagai garam dan terang dunia. Ini bukan mandat supaya para murid menjadi garam dan terang dunia, melainkan undangan untuk menunjukkan kualitas garam dan terang itu, bukan supaya kemuliaan diri diraup, melainkan supaya kemuliaan Tuhan terungkap.

Kemarin diberitakan ada seorang pensiunan yang mendapatkan sumbangan dari mantan murid-muridnya, tetapi malah menyumbangkan sumbangan itu kepada panti asuhan di beberapa kota. Beritanya ada di sini. Para penyumbang mungkin kecewa karena maksud mereka tidak terealisasi secara utuh. Mereka kiranya berpikir bahwa hasil penjualan motor butut pensiunan sebesar hampir 40 juta rupiah itu bisa dipakai untuk keperluan bapak pensiunan guru itu selama beberapa tahun ke depan. Akan tetapi, apa yang dikatakannya? “Namanya kebangeten kalau saya memakai uang sebanyak itu sendiri.”

Anda yang menangkap posting-posting saya sebagai renungan akan mengambil nasihat moral supaya orang jadi tepa selira, memperbanyak amal, dan sejenisnya. Sumonggo saja, saya sih tidak menulis renungan, dan yang saya tawarkan adalah sebuah paradigma dari lifestyle yang disodorkan Yesus: kalau garam itu dah gak asin lagi, njuk mau diapakan selain dibuang dan diinjak-injak orang?

Yesus mengundang pendengarnya untuk merealisasikan keasinan garam dan cahaya terang. Guru pensiunan itu menegaskan paradigma hidup seturut doa Bapa Kami, dan bukannya Bapa-ku, agama-ku, kekayaan-ku, keinginan-ku, kebutuhan-ku, dan seterusnya. Tindakannya menjelaskan apa artinya beriman sebagai makhluk sosial.

Ya Tuhan, semoga kami semakin qualified sebagai kanalisasi Roh Kudus-Mu dalam hidup bermasyarakat. Amin.


SELASA BIASA X
7 Juni 2016

1Raj 17,7-16
Mat 5,13-16

Posting Selasa Biasa X B/1 Tahun 2015: Urip Selo
Posting Tahun 2014: Jangan Jadi Garam Dunia!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s