Bahagia Kok Bersyarat

Ada orang-orang tertentu yang memutuskan untuk mencari kebahagiaannya sendiri tanpa sikap dasar ‘mendengarkan’. Menurut orang macam ini, kebahagiaan adalah hasil jerih payah atau kerja keras atau usaha sendiri untuk memenuhi apa yang diinginkannya. Ini sudah dijabarkan sebagai penjelasan untuk anak-anak SMP dalam posting Bagi-bagi Pahala Dong. Tentu bukan dengan maksud meremehkan anak-anak SMP, deskripsi kebahagiaan hari ini memang lebih advanced daripada sekadar konsekuensi achievement atau pemenuhan kebutuhan akan prestasi. Kalau dalam posting itu disodorkan persoalan mana yang baik dan mana yang buruk, pertanyaan dalam posting ini adalah mana yang baik dan mana yang lebih baik.

Tak perlu ragu-ragu mengatakan bahwa memenuhi kebutuhan akan prestasi itu adalah sesuatu yang baik dan pemenuhan kebutuhan itu sendiri memang memuaskan, membahagiakan. Akan tetapi, kalau kebahagiaan macam ini yang dicari, tanpa sadar orang bisa jatuh ke dalam ideologi kebahagiaan atau cinta bersyarat: bahagia kalau prestasi tercapai, bahagia kalau disiplin diri ada buahnya, bahagia kalau teknik berjalan sesuai rencana, bahagia kalau aturannya bisa ditepati, dan sebagainya. Artinya, aneka macam kebahagiaan itu hanya jadi kebahagiaan bersyarat selama orang terikat pada logika self-achievement itu. Ini tak perlu dipersempit dalam ranah material, juga terjadi dalam ranah spiritual.

Anda bisa bermeditasi dengan teknik apa saja, tanpa objek maupun dengan objek, sumonggo. Itu semua hanya akan jadi tunggangan kepentingan narsis Anda jika Anda tak membuka diri pada ‘Yang Lain’. ‘Yang Lain’ itu tak perlu buru-buru diterjemahkan sebagai Tuhan karena ‘Yang Lain’ itu memang bisa memanifestasikan dirinya dalam pribadi orang lain, teknik lain, agama lain, prestasi lain, dan sebagainya. Saya tidak menyinggung soal bahwa orang perlu mencoba teknik lain, menjadi pribadi lain, memeluk agama lain, dan semacamnya. Saya cuma bilang bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya, yang tanpa syarat itu, dimungkinkan jika orang membuka diri pada ‘Yang Lain’ alias ada sikap dasar ‘mendengarkan’.

Hahahaha, Romo ini gimana, itu namanya contradictio in terminis, lha wong bilang soal kebahagiaan tanpa syarat kok njuk kata hubungnya ‘jika’, itu kan juga syarat juga namanya! Orang bisa bahagia tanpa syarat jika terbuka pada ‘Yang Lain’. Berarti bahagia tanpa syarat itu ya ada syaratnya, kan? Romo ini memang lucu, ora cetho!

Mari silakan lihat ilustrasi yang dipakai Stephen R. Covey tentang kapten kapal angkatan perang Amerika dan kapten mercu suar yang bersitegang karena kapten kapal itu menyuruh petugas mercu suar minggir (alias meminggirkan mercu suarnya). “Kalau mau selamat, kamu minggirlah!” Dua kalimat persyaratan ini disodorkan baik oleh kapten kapal maupun petugas mercu suarnya. Mana yang lebih kokoh? Tentu saja yang disampaikan petugas mercu suar karena yang disampaikannya menjadi bagian dari prinsip dasar yang tak bisa ditawar-tawar, entah oleh kapten kapal perang atau kapten kapal ‘tidak’ perang.

Sabda Bahagia Yesus boleh saja disebut sebagai indikasi kebahagiaan bersyarat, tetapi syarat yang disodorkannya itu built-in dengan prinsip dasar kehidupan ini sendiri: hidup yang mengandalkan rahmat Tuhan, sebagaimana hidup fisik Elia disokong oleh burung-burung gagak.

Ya Tuhan, mohon kerendahan hati supaya kami sungguh dapat mengandalkan-Mu dalam setiap jerih payah usaha kami. Amin.


SENIN BIASA X C/2
6 Juni 2016

1Raj 17,1-6
Mat 5,1-12

Senin Biasa X B/1 2015: Life is Beautiful
Senin Biasa X A/2 2014: Ciri Orang Terberkati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s