Gak Usah Nangis Ya

Beberapa orang pernah mengalami situasi ‘kematian’ dan mengatakan bahwa sekarang mereka menjalani hidup yang kedua atau dianugerahi Allah kesempatan hidup lagi. Teks hari ini mengisahkan dua anak janda yang dihidupkan kembali oleh nabi Israel. Kisah ini dengan mudah ditangkap sebagai kembalinya orang dari dunia orang mati. Sudah mati njuk hidup lagi. Apakah ini bisa disebut sebagai kebangkitan?

Tampaknya ini bukan kisah kebangkitan jika dimengerti sebagai orang mati lantas hidup lagi. Mungkin ada baiknya diingat kembali pandangan tradisi kuno tentang tiga dunia: (1) dunia sini, (2) dunia orang mati (syeol), dan (3) dunia persekutuan dengan Allah. Kebangkitan adalah terminologi iman yang tak mengenal setback: mati njuk balik lagi ke hidup sini. Bangkit berarti masuk dalam persekutuan dengan Allah. Apakah fisiknya kembali ke dunia ini atau enggak, itu lain perkara.

Maka, hidupnya kembali anak janda dari Nain ini, atau kisah Lazarus atau anak Yairus, pertama-tama perlu dimengerti sebagai perjumpaan dengan Allah yang mengalahkan kematian. Apa artinya mengalahkan kematian? Artinya, Allah dapat mengatasi kekuatan biologis yang biasanya menjadi tolok ukur hidup mati orang.

Maka, kalau orang berani mengatakan bahwa dia mendapat kesempatan hidup untuk kedua kalinya, pernyataan itu baru ada artinya jika ia memiliki orientasi baru dalam hidupnya yang tidak dilandaskan pada fungsi-fungsi biologisnya. Orang yang mengalami mukjizat, selamat dari kecelakaan dahsyat dan begitu yakin diberi kesempatan hidup baru, tetapi kemudian kembali hidup ugal-ugalan, kembali hidup mengeruk untung dan kenyamanan hidup tanpa orientasi membagikan hidupnya bagi sesama, pantas diragukan pengalaman mukjizatnya.

Mengalahkan kematian berarti bahwa identitas kepribadian orang tidak lagi diidentikkan dengan fungsi jantung, ginjal, tangan, kaki, hati, dan sebagainya. Tak sedikit orang yang memberi kesaksian akan hal ini: mereka yang dapat melukis dengan kaki karena tak memiliki tangan, mereka yang mampu berenang tanpa tangan, mereka yang mampu memberi penghiburan dan meneguhkan orang lain saat organ-organ tubuhnya tidak beres, dan sebagainya.

Sayangnya, tak sedikit juga orang beragama, yang organ tubuhnya komplet dan berfungsi sempurna, justru tak punya pengalaman ‘mengalahkan kematian’ itu: depresi karena jerawatan, stress karena bagian tubuh yang dianggap tidak estetis, mau mati karena diolok-olok nilainya jelek, hilang harapan karena permohonan kenaikan gaji tak kunjung dikabulkan, iman melayang karena duit terbayang, cinta senyap seiring jabatan lenyap, dan sebagainya.

Tuhan, semoga kami mengalami perjumpaan dengan-Mu dan dapat mengalahkan mental kematian dalam diri kami. Amin.


MINGGU BIASA X C/2
5 Juni 2016

1Raj 17,17-24
Gal 1,11-19
Luk 7,11-17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s