Simpan di Tempat Sejuk

Kalimat terakhir dalam teks Injil hari ini bagi sebagian orang memiliki kesan yang begitu kuat: Ibunya [yaitu Maria] menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Catatan itu disampaikan penulis Injil Lukas setelah orang tua Yesus kebingungan mencari anaknya pada hari raya Paska. Mereka mesti bolak-balik ke Yerusalem untuk mencari anak tunggal mereka dan ketika berhasil menemukannya, mereka bertanya,”Kok tega-teganya kamu melakukan ini, Nak? Ayah ibumu cemas memikirkanmu!” Dasar sableng, bukannya minta maaf, malah balik menegur,”Loh kamu sekalian harusnya tahu dong di mana aku berada.”

Alhamdulillah bahwa tempat seharusnya itu adalah Bait Allah. Kalau anak-anak sekarang ini mencontek perbuatan Yesus, barangkali situs perjumpaan dengan orang tua itu ada di warung internet atau warung online games, yang bisa membuat orang tua semakin cemas; bukan cuma karena duitnya diploroti, melainkan juga semakin banyak waktu diinvestasikan anaknya untuk games, mengalahkan hal lain yang jadi tanggung jawab anaknya.

Maria, yang sudah sejak mengandung anaknya ini mengalami hal-hal misterius, menyimpan aneka perkataan dan tindakan Yesus yang tidak dimengertinya. Tapi apa maksudnya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya?

Tiga tahun lalu, Paus Fransiskus menyampaikan kotbah sederhana mengenai hal ini. Menyimpan Sabda Tuhan dalam hati, bukan berarti mendengarkan kata-kata-Nya, menuliskannya dalam catatan harian atau blog, apalagi memasukkan kertas catatan itu dalam botol dan kita menjaga jangan sampai botol itu pecah atau digondol kirik. Kalau begitu perkaranya, itu sama halnya dengan mengobjekkan (Sabda) Allah, yang sudah dilarang oleh blog ini ya. Menyimpan Sabda Tuhan berarti membiarkan hati terbuka, sebagaimana tanah membuka diri pada benih yang disemaikan padanya. Memang, Sabda Tuhan itu bak benih yang ditaburkan. Menyimpan Sabda Tuhan selalu berarti menimbang-nimbang apa yang kiranya dikehendaki Tuhan dalam situasi hidup tertentu.

Maria, yang murni hatinya, terus menggumuli misteri itu sampai akhir hayatnya. Relasi dengan anaknya tak lagi sebatas relasi ibu-anak, melainkan relasi dua insan manusia yang bersama-sama mencari kehendak Allah, memohon amanah dari Tuhan. Dalam hati Maria, Sabda Tuhan mendapat kanalisasi yang baik. Dari hati Maria memancar kelembutan Allah yang menaklukkan kekerasan hidup. Dari hati Maria mengalir kemurahan hati Allah di tengah mahalnya kerohanian murahan. Dari hati Maria bersinar cahaya ilahi di tengah kegelapan batin orang-orang frustrasi. Dari hati Maria tercurahkan rahmat yang membebaskan bagi mereka yang depresi.

Persoalannya tinggal: kebenaran itu baru terkuak kalau orang tidak menempatkannya sebagai harta karun ke dalam kotak atau brankas atau gudang. Seperti Maria, orang perlu membuka hati dan pembukaan hati ini bisa meretakkan hidup, menyakitkan, menumbuhkan luka. Akan tetapi, begitu aneka misteri Allah itu masuk dalam hati, aneka luka dan keretakan itu, tak lagi mendapat tempat untuk menghancurkan hidup di hadirat Allah.

Bunda Maria, semoga hati kami semakin murni seperti hatimu. Amin.


PERINGATAN WAJIB HATI TERSUCI SP MARIA
(Sabtu Biasa IX C/2)
4 Juni 2015

Yes 61,9-11
Luk 2,41-51

Posting Pw Hati Tersuci SP Maria B/1 Tahun 2015: Emas Murni Ada. Hati Murni?
Posting Pw Hati Tersuci SP Maria A/2 Tahun 2014: Duc in altum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s