Halo Kafir

Selain pecandu narkoba, apakah ada orang yang hobi makan obat? Kalaupun ada orang hobi makan atau minum obat, apakah ia menikmati hobi itu? Saya tak tahu. Saya sendiri sudah hampir dua puluh tahun menghindari obat-obatan selain vitamin yang waktu diminum rasanya semriwing atau cairan reject the wind atau sejenis obat luka luar. Entah apakah menghindari obat ini sesuatu yang baik atau buruk, pokoknya saya sebisa mungkin menjauhkan diri dari konsumsi obat dengan resep dokter. Bukannya saya anti dokter. Saya sangat respek pada dokter, entah hewan atau manusia [maksudnyaaaah?], tetapi obatnya sebisa mungkin saya hindari.

Bisa jadi orang begitu yakin kalau terbebas dari resep dokter itu njuk hidupnya lebih happy (lha iya wong gak harus nebus obat). Celakanya, sikap dan tindakan orang beragama bisa jadi mengikuti mekanisme seperti itu: sikap moral yang disodorkan agama kerap dilihat dengan ancang-ancang negatif sebagai sesuatu yang harus dilakukan, dan ini jadi tidak enak, seperti resep obat yang harus diminum atau dimakan. Ini seperti alien yang mesti diinjeksikan dalam diri kita dan itu mengerikan. Dalam wujud ringannya: membosankan, memuakkan, menjijikkan, dan sejenisnya.

Untuk kesekian kalinya saya katakan, saya bosan alias jêlèh bin fed up dengan kotbah yang berisi perintah atau larangan moral: jangan mencontek, jangan membunuh, banyaklah sedekah, berbagilah makanan, dan sebagainya. Apakah itu nasihat buruk? Tentu tidak, tetapi nasihat macam itu memosisikan tindakan moral seperti resep obat tadi. Lha njuk Romo tu maunya gimana wis?

Saya pernah melihat bagaimana seorang suster perawat menjelaskan komposisi obat dan khasiatnya, bukan cuma membacakan frekuensi dan waktu minum obatnya: kalau badannya nanti panas, obat yang ini diminum untuk anu dan kalau perut terasa mual lalu diminum yang ini supaya anunya inu dan kalau terasa lemas nanti makan dulu lalu obat yang ini dimakan supaya otot anunya anu. Pokoknya, ruang kebebasan pasien tetap terbuka: obat bukan makhluk asing yang harus dianu. De facto memang ‘harus’, tetapi keharusan itu tidak lagi merupakan perintah dari luar (heteronom), manifestasi pikiran menang-kalah (bdk. cerita kapal perang dan mercu suar).

Kotbah di bukit yang disodorkan teks hari ini mengundang pendengar untuk melihat halnya sebagaimana suster perawat menjelaskan resep dan proses bagaimana kapten kapal perang melihat perkaranya. “Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum!” Itu bunyi aturan moralnya, tetapi ada yang lebih fundamental: Siapa yang berkata kepada saudaranya,”Kafir!” harus dihadapkan kepada Mahkamah Agama. Artinya, orang perlu adil sudah sejak dalam pikirannya, menurut Pramoedya Ananta Toer. Orang yang adil sejak dalam pikiran tidak asal ‘pokoknya kalau baik buatku ya ambil aja‘. Itu sih relativis, oportunis, subjektif, individualis, yang mungkin tak butuh standar moral objektif.

Memang beda, resep agama yang dianggap seperti obat moral dan resep agama yang diterima sebagai panggilan Allah dalam batin. Yang pertama dihidupi orang heteronom dengan moralisme tingkat tinggi. Yang kedua dihayati orang otonom yang menerima agama sebagai kabar gembira, yang lembut tapi tegas. Orang pertama cenderung rigid, yang kedua lebih asertif dan kiranya lebih happy.

Tuhan, semoga kami semakin mampu menangkap kabar gembira-Mu. Amin.


KAMIS BIASA X A/1
15 Juni 2017

2Kor 3,15-18;4,1.3-6
Mat 5,20-26

Kamis Biasa X C/2 2016: Salaman Eaaaa…
Kamis Biasa X A/2 2014: Ojo Dumeh

3 replies

  1. halo romo… permenungan di atas membuat sya bingung karna pemahaman sya yang dangkal-superfisial.. jadi bolehkah sya brtanya apakah penghayatan yg “otonom” bisakah brguna utk lingkungan/sesama (bonum commune mungkin ya?) .. kalau tidak ada perintah / larangan dari si heteronom.. ? trimaksih bila berkenan memberi pencerahan… berkah dalem

    Like

    • Om hap ybk (bukan hpi lagi?), otonom tidak sama dengan individualis, dan orang yang otonom tentu support bonum commune karena bisa menjadikan kepentingan bonum commune sebagai kepentingannya juga. Otonom lebih menunjuk pada kemampuan orang menjadikan hal yang objektif (baik) sebagai perintah dari dalam dirinya, bukan perintah orang lain. Maka orang yang otonom tak menyalahkan situasi di luar dirinya jika terjadi kegagalan atau bencana. Orang heteronom sebaliknya, saking patuhnya pada perintah luar, nanti kalau ada kekeliruan dia cuma berkilah “Saya cuma menjalankan tugas…” (misalnya).

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s