Trending Tidur

Ada banyak alasan untuk kagum kepada orang yang sedang tidur, mulai dari klaim cinta sampai klaim benci [yang konon beda tipis]. Semua orang butuh tidur dan kalau yang tidur itu figur publik, bisa saja tidurnya jadi trending topic. Ini sudah terjadi tiga tahun lalu, seturut posting pada link ini (ayo klik atau tap linknya, eaaaa). Itulah yang disebut sebagai inkripsi sosial; artis cabut gigi aja bisa jadi bahan berita heboh. Kembali ke kasus tidur itu, tahun ini terulang lagi, gilirannya menteri bernama Susi. Ia tertidur di VIP Lounge bandara JFK, New York. Ini screenshot yang saya dapat:

Saya sama sekali tak berminat untuk terinskripsi secara sosial seperti dialami Bu Susi, dan beliaupun saya yakin juga tak menginginkannya, tapi memang inkripsi sosial itu tak bergantung pada minat yang bersangkutan. Saya cuma mau bilang, ada tindakan atau perilaku yang secara sepintas melanggar norma yang malah bisa merangsang orang berpikir ulang mengenai norma buatannya atau buatan masyarakat dan bagaimana implementasinya.

Bu Susi beruntung karena ‘bisa’ tertidur di VIP Lounge. Begitu pula Bu Kofifah di bandara Juanda. Di dermaga Hong Kong pada suatu waktu, saya bersama rombongan pada jam dua pagi untuk sekadar duduk bersandar pada tembok dengan harapan bisa memejamkan mata sesaat pun tak bisa. Polisi dermaga meminta kami berdiri dan di negeri orang itu, mau mendebat juga ngapain dan lagipula polisi itu cuma pakai bahasa isyarat dengan teriakan yang saya tak mengerti artinya. Maksudnya sih jelas, tak boleh duduk-duduk di area itu, sebagaimana ketika di bandara sebelumnya kami tak diberi kesempatan untuk duduk di ruang tunggu bagasi. Bisa dimengerti, alasan keamanan.

Alasan yang sama kiranya dipegang para pemimpin agama dan pengikutnya yang sekian lama memegang tradisi: keamanan agama. Dengan pegangan itu, Yesus terlihat seperti seorang anarkis dan penista agama dan bacaan hari ini mungkin tampak seperti pledoinya terhadap tuduhan orang-orang bahwa dia hendak mengganti hukum agama. Teks hari ini adalah bagian dari kotbah di bukit dan tak perlu ditangkap sebagai pembelaan diri terhadap tuduhan para ahli hukum agama. De facto, ia memang sama sekali tak mengganti hukum agama tetapi menempatkan hukum itu pada orisinalitasnya karena rupanya yang orisinal itu sudah dimanipulasi aneka macam kepentingan politis pake’ Kitab Suci, pake’ agama [pake’nya jangan dihilangkan ya].

Kotbah di bukit adalah uraian kebenaran hukum dalam terang iman kepada Allah: aturan dari Allah disodorkan untuk hidup, bukan untuk memerintah, apalagi menindas; ini adalah hukum yang diberikan Allah untuk menumbuhkan orang supaya semakin hidup, bukan malah untuk mencetak kader yang siap mati membela agama. Di sini mungkin boleh dilontarkan pertanyaan reflektif: bagaimana aturan agama membantuku untuk semakin hidup, bagaimana juga malah mematikan kreativitasku untuk beriman? Problem tak terletak pada aturan agamanya, tetapi pada kemampuan orang untuk mengembalikan orisinalitas aturan itu sebagai undangan Allah dalam hati nurani, bukan malah memaksakan teokrasi dalam masyarakat plural atau, sebaliknya, melenyapkan agama dari kancah hidup bermasyarakat.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami mampu menumbuhkan orientasi kehidupan sebagai trending culture. Amin.


Rabu Biasa X A/1
14 Juni 2017

2Kor 3,4-11
Mat 5,17-19

Rabu Biasa X C/2 2016: Kamu Jahat
Rabu Biasa X B/1 2015: Taat, tapi Robot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s