Agama Hambar

Bacaan hari ini mengingatkan saya pada artikel yang saya lirik kemarin: RIP Yahoo, Tak Ada Yang Too Big to Fail. Triggernya kalimat kedua: “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? [Ya dengan ikan asinlah!] Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” 

Ternyata oh ternyata, disiplin rohani itu memang sama sekali bukan ranah yang terpisah bahkan dari ranah bisnis yang material sekalipun. Semakin rohani, justru semakin material, tetapi bukan sebaliknya. Kalau dibalik, yang terjadi malah keruntuhan kerohanian itu. Dalam artikel tentang kematian Yahoo itu digambarkan ironi bagaimana uang bisa mendisorientasi orang-orang perusahaan. Mungkin kata yang lebih tepat ialah membuai daripada mendisorientasi karena orientasi bisnis tetaplah uang atau profit deh. Ironis, karena justru keterbuaian pada uang itu malah membutakan orang dari inovasi untuk mendapatkan uang itu sendiri. Lha kalau bisnis tak mau berinvestasi (atau apapun istilahnya) untuk litbang atau pemasaran, misalnya, gimana mau bertahan atau maju jalan alias move on? Gak bisa. Maka ya buang aja ke laut.

Njuk apa hubungannya sama disiplin rohani tadi je, Mo?
Kemampuan perusahaan dalam menerjemahkan visi-misi yang relevan dengan perkembangan dunia akan menentukan bagaimana perusahaan itu bertahan hidup. Penerjemahan itulah ‘kerohanian’ perusahaan. Maka, sebagai pribadi, kerohanian merupakan kemampuan manusia untuk menerjemahkan insight berbasis perwahyuan yang diimaninya dalam hidup konkretnya. Maka, kerohanian itu melampaui sekat agama. Begitu orang dibuai agama, seperti almarhum Yahu tadi, kerohaniannya tak berkembang, ya begitu-begitu aja. Kira-kira begitulah nasib orang beragama yang berpuas dengan dirinya sendiri, dengan agamanya sendiri. Hambar…

Trus gimana dong? Ya gak gimana-gimana, tinggal belajar berproses mengelola perjumpaan dengan ‘yang lain’ itu. Bukan untuk menjadi ‘yang lain’, melainkan untuk mengembangkan diri dengan perspektif ‘yang lain’. Artinya, membaca Kitab Sucinya tetap, mempelajari Tradisinya tetap, mengerti dokumen agama tetap, tetapi proses pemahamannya mempertimbangkan juga bagaimana ‘yang lain’ menanggapi dunia yang sama. Lah, kok jadi abstrak lagi ya? Haiya, silakan terjemahkan sendiri.

Ya Allah, mohon rahmat ketekunan untuk memahami Sabda-Mu dalam hidup yang senantiasa berubah ini. Amin.


Selasa Biasa X A/1
13 Juni 2017

2Kor 1,18-22
Mat 5,13-16

Selasa Biasa X C/2 2016: Hidup Kebangeten
Selasa Biasa X B/1 2015: Urip Selo *
Selasa Biasa X B/2 2014: Jangan Jadi Garam Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s