Masih Ingat Bahagia?

Musa dan Yesus sama-sama digambarkan berurusan dengan bukit atau gunung dalam menyampaikan pengajaran. Musa dikenal dengan dua loh batu berisi sepuluh perintah Allah, sedangkan Yesus dikenal dengan delapan sabda bahagia. Sepuluh perintah Allah itu biasanya diingat-ingat atau dihafalkan oleh anak-anak sampai zaman ini juga (dan mungkin dilupakan oleh orang dewasa), sedangkan delapan sabda bahagia, rasa-rasanya tak ada yang menghafalkannya. Ya memang gak ada juga yang minta orang untuk menghafalkan sabda bahagia. Sabda itu disampaikan untuk dihidupi.

Menariknya, sabda bahagia itu bukan ajaran moral yang umumnya berisi perintah atau kode tindakan yang mesti dijalankan orang. Yesus tidak meminta apapun dari pendengarnya untuk dilakukan. Itu seperti kalau orang zaman sekarang berpesan “Jangan lupa bahagia“: terserah lu ngapain pokoknya yang penting happy dan kriteria happy itulah yang disodorkan dalam sabda bahagia yang dibacakan hari ini. Yesus ini seakan mau mengingatkan orang untuk mengakui bahwa dalam pilihan-pilihan yang dibuatnya terdapatlah rahasia kebahagiaan sejati itu. Orang berbahagia bukan karena ia bersedih, jadi korban persekusi atau dipenjarakan, melainkan karena dia masih saja meletakkan kepercayaan kepada Allah. Kepercayaan inilah yang mengisi hati orang dengan kehadiran-Nya dan itulah yang memungkinkannya bahagia tanpa syarat.

Orang terberkati (saya cek di KBBI 5 ternyata ‘teberkati’ tak ada, sementara ‘terpercaya’ tak ada… njuk pathokane ki apa, sing nentokke sapa, wis mbohlah sakkarepmu, haha) tentu bukan karena dia miskin atau menangis, melainkan karena dalam keadaan itu ia masih ‘mampu’ menaruh trust kepada Allah. Begitulah logika sabda bahagia yang rupanya tak diindahkan oleh banyak orang, termasuk mereka yang mengklaim diri pengikut Yesus ini. Hanya dalam penyerahan total kepada Allah (itu frase yang saya ingat kalau saya mendengar kata Islam) orang mengalami kebahagiaan sejati. Orang seperti ini langsung akan dihakimi dunia sebagai orang konyol, orang kalah, pecundang, the looser, dan apa lagi deh istilahnya.

Si hakim dunia itu lupa bahwa entah orang menang atau kalah, the show must go on. Malah repot kan kalau untuk bahagia dalam show besar kehidupan ini orang cuma berkutat pada menang-kalah, sukses-gagal, kaya-miskin, sehat-sakit? Dalam sabda bahagia tak ada larangan untuk sukses, menang, kaya, sehat, tetapi sabda bahagia membuka wawasan orang waras bahwa cantus firmusnya, leitmotifnya, bottom linenya adalah relasi kepercayaan dengan Si Empunya Kehidupan ini, bukan kesuksesan, kemenangan, kekayaan, kesehatan sehebat apapun itu. Sebaliknya, yang membuat orang terpuruk bukan kemiskinan, kekalahan, penyakit, cacat biologis dan sejenisnya, melainkan ketidakmampuannya untuk meletakkan kepercayaan kepada Si Empunya Kehidupan ini. Dialah penjamin kebahagiaan yang sesungguhnya.

Tuhan, tambahkanlah kepercayaan kami kepada-Mu supaya kami semakin sanggup berserah diri. Amin.


SENIN MASA BIASA X A/1
12 Juni 2017

2Kor 1,1-7
Mat 5,1-12

Senin Biasa X C/2 2016: Bahagia Kok Bersyarat
Senin Biasa X B/1 2015: Life is Beautiful
Senin Biasa X A/2 2014: Ciri Orang Terberkati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s