Modus Cinta

Hari ini saya melihat lima ratusan orang muda yang terlibat dalam suatu kepanitiaan acara lintas negara melakukan simulasi persiapan event besar itu. Suara pengarah acara dengan megafon bahkan tak terdengar karena kalah oleh suara obrolan ratusan orang muda itu. Sebetulnya mereka tidak ngobrol dengan suara keras, tetapi karena jumlahnya banyak, jadi lebih dominan daripada suara pengarah acara. Mengapa mereka ngobrol? Tentu persoalannya bukan hanya karena lunturnya mental ‘satu bicara yang lain mendengarkan’, melainkan juga bahwa ada dorongan dasariah yang begitu besar dalam diri orang-orang muda ini

Dorongan dasariah inilah yang memungkinkan orang-orang muda itu ngobrol: kerinduan untuk menghindarkan diri dari kesendirian, dari kesepian, ke’diam’an, keterpisahan dari yang lain. Dorongan ini tak perlu dinilai positif atau negatif, baik atau buruk, bergantung pada sudut pandangnya. Akan tetapi, peristiwa itu sebetulnya adalah cermin, atau lebih tepatnya, manifestasi akan kerinduan orang terhadap ‘Yang Lain’. Artinya, kerinduan terhadap ‘Yang Lain’ itu mencari wujud dalam relasi manusiawi juga. Sayangnya, pada banyak kasus, orang membakukan wujud relasi itu sehingga yang terjadi malah kultus individu atau pemberhalaan manusia, alias orang baru happy jika yang lain itu bisa direngkuhnya dan tidak happy jika yang lain itu absen. Cinta bersyarat menghentikan manifestasi kerinduan orang terhadap ‘Yang Lain’ dan jadi ribet oleh urusan dengan ‘yang lain’.

Tritunggal Mahakudus yang dirayakan Gereja Katolik hari ini persis mau menunjuk dinamika kerinduan orang terhadap ‘Yang Lain’ itu. Ini bukan lagi soal perdebatan monoteisme murni atau politeisme terselubung pada doktrin Allah Tritunggal, melainkan soal cara berada orang Kristiani di dunia. Yesus tidak pernah menyodorkan suatu doktrin tentang Allah Tritunggal, tetapi ia menghidupi kenyataan Allah Tritunggal itu. Bagaimana? Sebutan Bapa mengandaikan adanya status anak, dan ini adalah soal relasi afektif. Menerima Allah sebagai sosok pribadi secara afektif adalah ‘cara berada’ tertentu yang dilandasi oleh kualitas relasi personal, relasi yang dimungkinkan oleh nafas kehidupan yang dihirup dan dihembuskan: Roh.

Dari relasi macam itu, orang bisa memahami bagaimana Allah memberikan Diri juga kepada umat-Nya dan pemberian diri ini mengusik manusia sendiri: apakah cintanya itu berorientasi untuk memberi atau menerima. Bisa jadi orang mengklaim cintanya adalah cinta yang ‘memberi’, tetapi orientasinya tetap ‘menerima’. Memberi sedekah dengan SOP ada pemotretan sebagai bukti, memberi perhatian supaya diperhatikan, dan aneka modus lainnya. Dalam keadaan begitu, kenyataan Allah Tritunggal tidak jadi pengalaman konkret.

Ya Allah, mohon rahmat kebesaran hati supaya kami semakin mampu memberikan diri kepada-Mu dalam setiap jerih payah hidup kami. Amin.


HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS A/1
Minggu, 11 Juni 2017

Kel 34,4b-6.8-9
2Kor 13,11-13
Yoh 3,16-18

Posting Tahun C/2 2016: Susahnya PDKT
Posting Tahun B/1 2015: Manusia Tritunggal
Posting Tahun A/2 2014: Allah 3D
*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s