Yang Mana Agamamu?

Ada tiga karakter yang disodorkan bacaan hari ini yang mungkin bisa dipakai sebagai representasi tiga cara orang beragama. Pertama, para ahli Taurat, mewakili mereka yang bertekun dengan sumber wahyu Allah, belajar Kitab Suci sampai berkali-kali tamat, menguasai teologi Kitab Suci dan terhitung sebagai kelompok elit agama. Ini orang-orang yang sirius dalam beragama tapi bisa jadi tersesat karena memakai privilesenya untuk memanfaatkan kaum lemah dengan bawa-bawa aturan agama bahkan nama Allah. Orang seperti ini bisa menakut-nakuti orang lainnya dengan bendera bela (pemimpin) agama. Nama Allah dipakai untuk kepentingannya sendiri atau kelompok. Dengan kata lain, nama Allah yang demikian indah (yang konon ada sembilan puluh sembilan) tinggal nama, tak terealisasikan dalam hidup orang yang memperjuangkan kebenaran, keadilan, kesetiaan, belas kasih, bela rasa, dan sebangsanya.

Tentu, problemnya bukan pada nama Allah itu, melainkan pada orang tipe pertama ini, yang membuat nama Allah jadi ideologis dan dipakai untuk menakuti umat atau membuat standar ganda. Kalau kepentingannya terusik oleh orang lain, ia akan menghantamnya dengan nama Allah yang Mahabesar, kalau terbukti dirinya sendiri terlibat dalam korupsi, ia membela diri dengan nama Allah yang Maha Pemaaf. Begitu seterusnya sehingga sebetulnya orang ini bukannya beragama secara autentik, melainkan ngadalin agama atau menipu umat dengan kedok agama.

Kedua, tak jauh beda dari yang pertama, sama-sama munafiknya, tetapi dari perspektif yang berbeda, yaitu orang beruang alias berduit dan tergolong sebagai orang kaya. Agama orang kaya ini dihidupi sedemikian ngiritnya, semakin sedikit bayar semakin baik. Ini bukan pertama-tama soal bayar dengan duit, melainkan soal bayar dengan cara hidupnya sendiri. Orang kaya ini menganggap beragama itu cukup dengan sedekah ala kadarnya, tak ada konsekuensi yang ditanggung dari hidup beragama: tak usah pikir soal tindakan asketis (puasa misalnya), apalagi soal konsekuensi moral, duit pun sebisa mungkin jangan sampai mengganggu masa depan keturunannya. Ke tempat ibadat itu ya hitung-hitung untuk ngehits deh masih bisa, atau wisata arkeologi boleh juga apalagi ke tempat-tempat wisata eksotis peninggalan purba kala; jadi bayar untuk biaya perawatan masih okelah! Tak ada konsep persembahan atau pengorbanan diri dalam diri orang kaya ini. Setengah-setengah alias oportunis.

Ketiga, janda miskin, yang memperlakukan segala kepunyaannya sebagai persembahan hidup bagi Allah. Ia tidak mencari kepentingan diri, tak juga hendak menghilangkan kesusahan hidupnya. Ia tidak setengah-setengah dalam memberikan dirinya. Agama macam inilah yang disodorkan Yesus. Sik sik sik, dia tidak mendirikan agama, tetapi dia memberi kualitas tertentu terhadap agama, tentu saja maksudnya orang-orangnya: pun kalau orang diminta untuk menyerahkan nyawa, bukan cuma masuk penjara, ia berjiwa besar. Itu pula yang dia buat. Lah, apa bedanya Mo sama teroris yang berani mati demi menegakkan agama itu? Lha ya jelas beda, teroris kan termasuk ke agama pertama tadi. Sama-sama berani mati bukan berarti punya motif atau nilai yang sama dong.

Agama janda miskin, yang tidak hendak memegahkan diri, tidak memoles topeng agama supaya kelihatan lebih santun, inilah yang sewajarnya dimohon oleh umat beriman.

Ya Tuhan, mohon rahmat kerendahan hati, kelapangan hati dan kebesaran jiwa untuk mempersembahkan hidup kami semata bagi nama-Mu. Amin.


Sabtu Biasa IX A/1
10 Juni 2017

Tb 12,1.5-15.2
Mrk 12,38-44

Sabtu Biasa IX B/1 2015: Salah Fokus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s