Jangan Lupa Bahagia!

Apakah orang perlu diingatkan untuk berbahagia? Bukankah bahagia sejati datangnya dari kedalaman? Ya, orang butuh reminder karena kesadaran orang dinamis dan bisa tertipu oleh penampakan. Pengkhotbah hari ini mengingatkan: berbahagialah kamu selagi masih muda! Betapa menyedihkannya melihat orang muda yang bermuram durja, cemberut dari terbit matahari sampai terbenamnya, dan menangis pada bantal guling sepanjang malam! Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu!

Pengkhotbah gak berhenti di situ,”Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu!” tetapi njuk memberi catatan,”Ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!” dan “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang”. Haaaaahahaha… pada bae ya’? Ya gak juga sih.

Pengkhotbah menunjukkan samudera kegembiraan tetapi mengingatkan bahwa pilihan tindakan dalam lautan kegembiraan itu tetap terbuka pada kritik. Mosok iya mentang-mentang gembira njuk apa saja yang dibuatnya benar? Tentu tidak, apalagi kalau standar yang dipakai untuk kritik itu ada sangkut pautnya dengan rida Allah. Dengan kata lain, Pengkhotbah itu mau mengatakan bahwa orang mencari kegembiraan dalam batas-batas belas kasih Allah.
Loh, kalo gitu orang gak bebas lagi dong, Rom, karena gembiranya bersyarat: terbatas pada belas kasih Allah itu?
Oh, gitu ya? Pertama, emang belas kasih Allah itu kayak gimana batasnya? Kedua, menilai kegembiraan dalam batas belas kasih Allah sebagai ketidakbebasan hanyalah satu kerangka pandang tentang kebebasan, yaitu ‘bebas dari’. Titik acuannya adalah kondisi luar.

Padahal, orang yang sungguh bebas itu tak terkungkung kerangka ‘bebas dari’, tetapi juga punya kerangka ‘bebas untuk’. Maka, pokok perhatiannya bukan lagi batasan luar, melainkan gerakan dari dalam. Itu mengapa dikatakan kebahagiaan sejati datangnya dari kedalaman. Kalau yang datang dari luar dipakai untuk menilai yang dari dalam, tentu tidak klop, terjadi konflik dan yang dari dalam itu tadi mesti tercabik-cabik oleh duri tajam dari luar. Maaf, rada-rada mistik dan abstrak. Kalau mau konkret, ambil saja contoh orang yang sudah punya kesadaran akan relasi pribadi dengan yang Transenden. Tak sedikit orang seperti ini yang tak tahan dengan agama, persis karena agama mengungkung kebebasan relasi pribadi dengan Tuhan itu: dengan ritualnya, dengan doktrinnya, dengan komunitasnya, dan sebagainya. Males deh beragama, ribet bin rempong! Tak mengherankan orang kemakan slogan “God? Yes. (Organized) Religion? No!

Tak mengherankan juga bahwa murid-murid Yesus cuma plonga-plongo terhadap pernyataan guru mereka,”Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Seilahi-ilahinya Tuhan, kalau mesti merasuk dalam kemanusiaan, Ia pasti dibantai oleh aneka sikut-sikutan politik. Itulah yang sulit dimengerti oleh murid-murid Yesus. Mestinya keilahian itu mengatasi hiruk pikuk perang kepentingan manusia, lha ini kok malah dibilang ‘diserahkan ke dalam tangan manusia’!

Konon Yohanes Krisostomus pernah menulis begini: Orang yang ‘takut’ akan Allah itu menggapai akar kebahagiaan, dia punya sumber segala kegembiraan. Seperti percikan api yang jatuh ke samudera segera mati, begitulah setiap peristiwa yang menimpa orang yang ‘takut’ akan Allah, lautan kebahagiaan. Maka, yang mengagumkan justru adalah ini: dalam penderitaannya, orang tetap bahagia.


SABTU BIASA XXV
24 September 2016

Pkh 11,9-10;12,1-8
Luk 9,43b-45

Posting Sabtu Biasa XXV B/1 Tahun 2015: Korban Ketiga
Posting Sabtu Biasa XXV Tahun 2014: Makan: Sensasi atau Butuh?

4 replies

  1. Ini keren, rm, nmm sgt rumit, membuat speechless. Semua mns hakikatnya mencari kebahagiaan soalnya. Nmn bgmn bisa dalam penderitaannya, orang tetap bahagia. Pertanyaan ini mau sy teriakkan sbnrnya saking absurdnya. Jawabannya bisa jd krn dia tdk menganggap itu sbg penderitaan, dia menjalaninya. Menjalani dg tabah (krn iman dll), masih bisa lha tersenyum dg cara pandang plg positif. Tp menikmatinya, sy kira tdk bs. Bahkan dlm film life is beautiful, Guido tersenyum pun itu pura2, dia tdk bahagia dg penderitaannya, nmn dia mencari cara agr tdk terlalu merasakn penderitaan itu. Dn senyum lebarnya setlh lenyap dr pandangan anaknya berubah beku dn kosong, diakhiri bunyi tembakan. Dlm imaji sy, ktk muncul slide dlm bentuk layar lebar, dg silhouette / siluet tokohnya yg bahagia dlm penderitaannya, mk bs jd malah penontonnya yg menderita brgkl (makanya penonton bioskop pd sesenggukan kl adegan sedih, rm, cb deh rm perhatikan sesekali di bioskop). Bukankah saraf mns hakikatnya tdk tahan akn penderitaan, mns itu berupaya macem2 supaya tdk menderita, teknologi diciptakan u mengurangi penderitaan pd mns, wl sec ironi malah terkdg mendatangkan penderitaan. Kec mereka yg sdkt terganggu sarafnya yg menginginkan penderitaan bg org lain (atau yg nuraninya sdh bantet alias tumpul). Mdh2n sy tdk keliru, lagi…

    Like

  2. waaaaa….penjelasan romo di “Syukurlah…” ok banget, jadi semangat. benar itu, setelah saya pikir ulang, rupanya itu bukan realitas, tapi hanya perspektif diri kita sendiri. jd klu nya letak kebahagiaan itu ada di “upah kemerdekaan”, karena point boleh bekerja nya sendiri, letak kebahagiaan pada kerjanya, bukan pada hasil. hasil itu seperti romo bilang, entah nasib baik entah bukan bukan lah urusan kita lagi, itu yang disebut lepas bebas, merdeka. sehingga kebahagiaan kita bukan lagi pada hasil, waaaaa…..ini keren pemahamannya, tks romo

    Like

    • Tp… susah kali ya dipraktekkan 🤣 #ketawa gak berhenti# hrs dimulai dg perubahan cara pikir dn cara pandang😂sama susahnya.🤣 Tp bs dicoba, 👍ini pencerahan. Mksh rm

      Like