Agama Candu

Dulu, kekayaan menjadi indikator bahwa hidup seseorang diberkati Tuhan. Orang kaya dianggap sebagai orang yang hidupnya diberkati Tuhan. Itulah tokoh pertama yang disodorkan Yesus dalam perumpamaan hari ini (yang sudah diulas pada posting “Buka Pintu”): pakaiannya berkualitas tinggi dan bersukaria dalam kemewahan setiap hari. Tokoh kedua adalah Lazarus, orang miskin borokan yang kelaparan di depan pintu rumah si kaya itu. Kedua orang ini akhirnya mati juga. Lazarus dipangku Abraham sementara si kaya menderita di alam maut itu. Si kaya minta tolong supaya Abraham menyuruh Lazarus meneteskan air untuk menyejukkan dirinya. Ditolak. Minta tolong lagi untuk mengingatkan lima saudaranya di dunia supaya tak menderita seperti dirinya. Ditolak juga.

Dari narasi macam ini biasanya ditarik suatu pesan moral naif (lagian ngapain juga narik-narik pesan moral): makanya kalau jadi orang kaya tu jangan pelit-pelit, selama di dunia ini beramal baiklah supaya gak masuk neraka! Gombaaaaaaaaaalllllllllll.

Itu pesan moral naif,  gak ada hubungannya dengan narasi, malah memperkosa teks. Apakah dikisahkan Lazarus itu tidak pelit sehingga ia masuk surga? Tidak. Apakah diceritakan orang kaya itu koruptor atau penjahat? Tidak. Apakah Lazarus meminta remah-remah dari orang kaya itu dan permintaannya ditolak? Tidak. Apakah dalam narasi itu ada setting surga dan neraka? Tampaknya tidak juga.

Pesan moral naif macam inilah yang mendistorsi pesan Kitab Suci. Bahkan, bisa jadi pemuka agama memakai teks seperti ini untuk menghibur orang miskin atau mereka yang berkesusahan: sabar ya, ini akan berakhir, kelak di dunia sana, situasinya akan berkebalikan, seperti perumpamaan Lazarus dan si kaya hari ini. Barangkali dalam batin pendengar hiburan semu pemuka agama ini terlontar kata “pret”, dan mungkin malah baiknya tidak disimpan dalam batin, tetapi langsung dibisikkan di telinga pemuka agama itu supaya tidak asal bunyi. Kalau perlu beri saja pertanyaan pada pemuka agama seperti itu,”Pernah dengar Karl Marx? Pernah dengar agama sebagai candu?”

Poin perumpamaan ini ada pada dialog si kaya dengan Abraham. Si kaya merepresentasikan kerangka pikir manusia, sedangkan Abraham merepresentasikan kerangka pikir Allah. Pun jika si kaya ini disebut bertobat di dunia sana, ia tetap tak bisa menyeberangi jurang antara dirinya dan Lazarus. Ini seperti jurang yang tak terseberangi Lazarus selama ia hidup di dunia sini. Siapa yang menciptakan jurang itu? Lazarus? Bukan. Allah? Bukan juga. Jadi? Ya si kaya sendiri! Kapan dia membangun jurang itu? Ya sewaktu hidup di dunia sini: tak tersentuh, tak terhubung dengan mereka yang membutuhkan rahmat.

Situasi berjurang tak dikehendaki Allah tetapi Ia takkan menyeterika orang supaya bertobat dan menghancurkan jurang di dunia sana. Pertobatan dan perubahan cuma bisa dilakukan di dunia sini. Jurang yang dibangun di dunia sini takkan diruntuhkan di dunia sana, mungkin malah semakin terasa lebar. Maka, pesan perumpamaan hari ini justru adalah supaya di dunia sini orang menghancurkan jurang pembatas rahmat Allah itu sehingga mereka yang membutuhkan rahmat Allah memang mengalami bantuan-Nya (dan itulah kurang lebih arti nama Lazarus). Orang tak menciptakan sekat bagi mereka yang butuh akses rahmat, entah material, intelektual, atau spiritual.

Tuhan, semoga kami tidak membangun sekat rahmat-Mu bagi mereka yang membutuhkan. Amin.


MINGGU BIASA XXVI C/2
25 September 2016

Am 6,1a.4-7
1Tim 6,11-16
Luk 16,19-31

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s