Buka Pintu, Beta Mau Masuke

Perumpamaan hari ini menampilkan dua tokoh: Lazarus dan orang kaya. Lazarus tidak keren tapi kere abis, penuh borok, duduk di emperan orang kaya yang sehari-harinya happy-happy dalam kemewahan. Ini bukan orang kaya pada umumnya. Ia tak diberi nama, cuma dilekatkan sifat padanya: lebay, kemaruk, gelojoh pesta, waduk. Ada tokoh lain, Abraham, tapi kira-kira dia jadi representasi cara pandang Allah terhadap problem antara Lazarus dan orang kaya kemaruk itu.

Lazarus inginnya dapat makanan sisa pesta si kemaruk, tetapi ia cuma bisa berbaring di depan pintu, tak bisa masuk, mestinya karena pintu tertutup. Orang kaya lebay itu mungkin malah tak tahu bahwa ada orang semenjijikkan Lazarus itu. Yang memperhatikan Lazarus justru adalah asu yang suka menjilati boroknya. 

Orang kaya ini bukan penjahat dan memang tidak dinarasikan begitu. Bisa jadi ia memperoleh kekayaannya dengan kerja keras dari nol, saat ia tak punya apa-apa. Tak ada masalah dengan bagaimana ia menjadi kaya. Problemnya ialah bahwa pintunya tertutup, hatinya tak terhubung dengan dunia luar seakan-akan begitu fokus dengan dirinya sendiri sehingga tak ada perjumpaan dengan Lazarus ini. Orang kaya lebay ini seperti merepresentasikan ideologi yang tak peduli pada korbannya (tentu saja, sistem, ideologi gak pikir soal perjumpaan dengan manusia).

Di sebuah pemberhentian U-Bahn (yang baru dibangun di DKI saat ini) di Jerman seorang anak muda menjumpai saya, bertanya bagaimana membeli tiket untuk ke tempat tertentu. Lah, ini anak, bau-baunya seperti dari Korea, kok malah tanya saya ya? Saya orang baru di sini, Mas! Tidak ada penjual tiket di situ. Penumpang mesti menghadapi mesin, bukan untuk selfie, melainkan untuk pejet-pejet tombol pilih tiket harian atau mingguan untuk zona tempuh yang mana. Mesin ini tentu tak peduli siapa saya, LGBT atau bukan, dari mana, banyak duit atau banyak utang.

Kondisi yang menutup perjumpaan itu memang bisa menggilas orang, meninggalkan orang, melupakan orang. Kondisi itu yang digambarkan melekat pada orang kaya lebay dalam parabola hari ini. Saya sampaikan di sini ungkapan Santo Ambrosius yang ditulisnya pada abad IV, sebelum marak privatisasi air, pantai, udara, dan lain-lainnya. Jangan khawatir, kata-kata ini tak ditujukan untuk Anda, karena saya yakin, Anda bukan orang kaya lebay; orang kaya lebay tak membaca blog saya: Dunia diciptakan bagi semua orang, tetapi kamu, segelintir orang kaya, mengupayakannya supaya ciptaan itu kamu kuasai sendiri. Bukan cuma tanah, tetapi juga langit, udara, laut, dikuasai oleh segelintir orang kaya. Ciptaan-ciptaan ini, yang kamu klaim sebagai milik pribadimu, berapa banyak orang yang semestinya bisa mendapatkan manfaat darinya!

Mungkin Santo Ambrosius tak tahu bahwa sekarang ini 90% rezeki dikuasai oleh 10% populasi atau 10% rezeki diperebutkan oleh 90% populasi. Saya juga tak tahu…

Ya Tuhan, semoga kami tak menutup mata dan hati terhadap problem ketidakadilan di sekeliling kami. Amin.


HARI KAMIS PRAPASKA II
25 Februari 2016

Yer 17,5-10
Luk 16,19-31

Posting Tahun 2015: When Good Men Do Nothing
Posting Tahun 2014: Kemiskinan: Mengandalkan Allah

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s