Persaudaraan Tak Otomatis

Beberapa anak muda yang galau pernah menyatakan diri inginnya menghilang dari dunia ini; pokoknya tak terlihat orang lain. Bukannya mau mati, pokoknya mau menghilangkan diri aja. Piye jal, susah kan? Tapi mungkin itu masih mending, menghilangkan diri sendiri, daripada menghilangkan orang lain.

Kitab Suci sejak awal menarasikan godaan untuk melenyapkan orang lain, bullying orang lain, termasuk saudara sendiri. Ini terjadi sepanjang sejarah dan sering godaan ini terwujud pula dalam aksi: Kain membunuh Abel, Yakub yang menelikung Esau, dan Yusuf yang disingkirkan oleh kakak-kakaknya. Perang saudara sampai sekarang terjadi di aneka belahan bumi. Saudara, sebagian dari diri kita, bisa datang kepada kita dan sangat mengganggu sedemikian rupa sehingga rasanya ingin mithes atau melenyapkannya dari muka bumi.

Memang enak hidup tergantung, menyerahkan tanggung jawab pada orang yang kita gantungi (atau gantungkan, gantunglah, gantungan, gantungin, emboh). Itu bisa kita buat saat masih kanak-kanak, kepada orang tua. Tapi setelah beranjak besar, saudara kita muncul dan seolah merenggut kebebasan kita karena ada tanggung jawab yang diletakkan pada kita, padahal saudara ini ya sebetulnya sama dengan kita. Relasi dengannya justru bisa memasukkan kita pada persaingan (apalagi kalau orang tua sejak kecil hobi membanding-bandingkan). Narcisisme kita terganggu. Ini terjadi tidak cuma di lingkungan keluarga, tapi juga dalam dunia kerja, dunia politik, dunia fantasi, dunia dalam berita, halah….

Di situ kita dihadapkan pada pilihan yang juga dihadapi Ruben dalam bacaan pertama: melenyapkan saudara, atau membangun persaudaraan. Ruben tampaknya berhasil menjatuhkan pilihan kedua, meskipun hasilnya baru dipetik lama sesudahnya.

Paul Ricoeur, filsuf yang relatif belum lama meninggal, pernah bilang kepada saya secara tidak langsung (perantaranya banyak banget deh pokoknya): pembunuhan Abel mengundang suatu proyek etis yang disebut persaudaraan, yang bukan lagi fakta alamiah begitu saja. Memang, persaudaraan tidak dilahirkan. Ada orang yang membunuh saudara kandungnya karena problem warisan. Ada orang yang menuntut saudaranya di pengadilan demi membalaskan dendamnya. Persaudaraan tidak otomatis ada begitu orang dilahirkan, ia dibangun. Orang diundang ‘menjadi saudara’ bahkan terhadap mereka yang lahir dari rahim yang sama. Mungkin dibutuhkan bertahun-tahun untuk merajut goresan luka, merekonstruksi bersama pengalaman baru sebagai saudara.

Ya Allah, semoga kami lebih membangun persaudaraan daripada meretakkannya. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA II
26 Februari 2016

Kej 37, 3-4.12-13a.17b-28
Mat 21,33-43.45-46

Posting 2015: Pemahaman Nenek Lu!
Posting 2014: Matinya Empati Kami

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s