Allahnya Teroris

Mengapa kebanyakan teroris berafiliasi pada agama? Apanya agama sih yang bikin orang jadi teroris? Apanya agama yang mereka bela mati-matian? Trus, kenapa juga ada ateis tak beragama yang jadi teroris (link ini bisa dipertimbangkan, sekurang-kurangnya sebagai suatu kemungkinan)? Kalau entah beragama atau tidak, ternyata orang bisa jadi teroris, mestinya ada unsur elemen lintas-agama, lintas-keyakinan, yang begitu signifikan menentukan terwujudnya terorisme. Elemen itu oleh Romo Tom Jacobs almarhum disebut sebagai paham Allah.

Paham Allah tak cukup dimengerti sebagai konsep atau pengertian kognitif mengenai Allah. Paham Allah melibatkan dimensi afektif yang secara kontinyu terhubung dengan pribadi Allah sendiri. Orang boleh saja mengklaim Allah itu Maha Esa, tetapi pada praktiknya malah menghayati hal yang bertentangan dengan keesaan. De facto, ada saja umat beragama yang mengandalkan kekuatan klenik sedemikian rupa sehingga pribadi Allah tersingkirkan dari hidup konkretnya. Tak mengherankan, Tom Jacobs akhirnya menyatakan bahwa tidak ada paham Allah dalam filsafat, agama, ateisme, bahkan teologi sekalipun (yang secara harfiah berarti ilmu tentang Allah)!

Loh, kalo paham Allah gak ada, kok malah disebut sebagai elemen signifikan bagi terorisme? Ya itu tadi, karena paham Allah bukan kerangka kognitif belaka, melainkan juga kerangka afektif, bahkan juga volutif (kehendak, penghendakan). Seseorang tak mungkin kita sebut pianis hanya karena ia tahu pernik-pernik musik dan tahu teori posisi jari jemari di atas tuts piano. Ia sendiri memang bisa memainkan melodi pada piano dengan jari jemarinya sendiri, entah jari tangan atau jari kaki. Maka, unsur hakiki paham Allah bukan kognisinya, melainkan dimensi konkret relasi pribadi dengan Allah yang tertangkap oleh kognisi itu.

Perumpamaan dalam bacaan Injil hari ini sudah sangat dikenal, juga untuk memahami kedalaman arti pertobatan (klik di sini kalau mau membaca ulang). Biasanya yang jadi pusat perhatian adalah anak bungsu durhaka yang kemudian bertobat. Maka, perumpamaan itu sering dikenal sebagai perumpamaan tentang anak yang hilang. Akan tetapi, kalau teksnya dibaca lengkap dengan kaidah-kaidah naratif, akan kita ketahui bahwa tokoh utamanya adalah sang ayah, maka sebetulnya lebih tepat diberi judul perumpamaan ayah yang baik hati.

Dengan hati hancur ia lepaskan anak bungsunya pergi, meskipun tahu yang akan dibuat anaknya mestilah amburadul. (Kita sekarang mungkin akan membentaknya, memasungnya, memukulinya demi konsep tanggung jawab terhadap masa depan anak) Ayah ini tiap hari berjaga-jaga kalau anaknya pulang. Ketika anaknya pulang, ia sudah menyongsongnya sebelum tiba di rumah: tak menghakimi, memeluk anaknya, memberi pakaian pesta. Ia tahu anaknya belum sungguh bertobat selain bermodal pertobatan perut alias kapok. Ia sabar dan tetap memestakan anaknya. Ia tampak lebay pengampunannya terhadap anak yang jelas-jelas durhaka, mengharapkan kematian ayahnya (minta warisan). Ini tak adil, semestinya ia biarkan saja anaknya dipenjara demi pembinaan! Tetapi sosok Allah seperti itulah yang disodorkan Yesus.

Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Teroris tak mungkin memelihara paham Allah seperti itu. Allahnya teroris barangkali adalah sosok monster mahakuasa.

Tuhan, semoga kami semakin murah hati sebagaimana Engkau murah hati adanya. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA II
27 Februari 2016

Mi 7,14-15.18-20
Luk 15,1-3.11-32

Posting 2015: Asal Usul Doa
Posting 2014: Why Forgive?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s