Dua Model Keberdosaan

Apakah orang baik itu pasti matinya secara baik-baik juga? Saya kira tidak (meskipun definisi secara baik-baik bisa diperdebatkan). Kalau orang Kristen sampai berpikiran bahwa orang baik matinya juga baik-baik, sebaiknya dia berpikir ulang mengenai apa atau siapa yang dipercayainya. Mungkin ia tak percaya bahwa Yesus mati disalib.
Sewaktu pihak penerbit menolak naskah buku pertama Saat Tuhan Tiada, redakturnya ‘menghibur’ saya dengan kata-kata yang mengherankan saya. Pertama, dalam penjelasannya terselip penilaian bahwa saya mengalami euforia karena itu adalah (calon) buku pertama saya (barangkali itu proyeksi pengalamannya sendiri waktu pertama kali bukunya terbit). Kedua, berkenaan dengan isi, tidak bisa diterima penerbit juga karena bersinggungan dengan Anthony de Mello, dan orang tahu bahwa Tony de Mello matinya ‘gak baik’ (padahal dia adalah sosok rohaniwan, biarawan pula).

Akan tetapi, njuk apa hubungannya antara serangan jantung dan kerohanian yang ditularkannya ya? Apa kalau matinya ‘jelek’ begitu njuk artinya orang itu ‘jelek’ atau tidak baik? Trus gimana itu jutaan orang yang dulu dibantai oleh rezim keji pada pertengahan abad lalu? Apa mereka juga ‘gak baik’ (padahal pembantai mereka disebut keji)?
Yesus kiranya menentang asosiasi bencana sebagai kutukan Allah atas dosa manusia. Di Yerusalem ia mendapat laporan pembantaian pemberontak oleh pasukan romawi. Pemberontak itu adalah orang-orang Galilea, yang memang lebih bergejolak daripada orang-orang di Yerusalem. Akan tetapi, Yesus juga tahu ada belasan orang mati tertimpa menara di wilayah sekitar Yerusalem.

Kata teman saya, orang Galilea dan Yerusalem itu punya rivalitas tertentu. Mereka yang di Galilea punya gengsi sebagai orang-orang yang sukses secara ekonomis, tetapi juga secara politik pun mereka tak selemah orang-orang Yerusalem di hadapan penjajah romawi. Sebaliknya, orang Yerusalem merasa diri mereka lebih baik secara rohani karena pusat peribadatan ada di wilayah mereka. Rivalitas itu dipakai Yesus untuk menyentil mereka semua supaya bertobat. Mereka tak bisa memakai aneka bencana sebagai tolok ukur mana yang hukumannya lebih berat, dan itu berarti dosanya lebih besar.

Yesus mengkritik paham sesat mereka. Entah orang Galilea, entah orang Yerusalem, mereka sama-sama perlu bertobat dan tak pernah bisa mengklaim diri bersih dari dosa hanya karena terbebas dari bencana. Orang Galilea yang sukses itu cenderung abai terhadap orang lain yang secara ekonomis ketinggalan. Ini ringkasan teman saya: masalah di Galilea ialah perbedaan antara orang kaya dan orang miskin, adanya ketakadilan sosial yang makin memojokkan orang miskin. Masalah orang Yerusalem ialah sikap saleh tapi sombong, merasa aman, “self-righteous”, mau mengatur Tuhan…. Begitulah, dua model keberdosaan: kelekatan pada kekayaan sampai lupa sesama (dosa Galilea), dan arogansi rohani sampai jadi munafik dan bahkan memusuhi Yesus, utusan Allah sendiri (dosa Yerusalem). Silakan mau pilih model keberdosaan yang mana, dua-duanya perlu ditinggalkan. Setiap orang memang perlu bertobat.

Ya Tuhan, mampukanlah hamba-Mu eling pada sesama dalam kerendahan hati. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA III C/2
28 Februari 2016

Kel 3,1-8a.13-15
1Kor 10,1-6.10-12
Luk 13,1-9 bdk. posting 24 Oktober 2015: Awas Kabut Azab

Hari Minggu Prapaska III B/1: Kita Dihukum Bebas
Hari Minggu Prapaska III A/2: Fragile but Called to Love