Saat Tuhan Tiada

Saat Tuhan TiadaBuku ini ditulis dalam waktu satu bulan setelah menjalankan retret tahunan 8 hari di Sukabumi, Jawa Barat, Agustus 1997. Pemicunya sederhana: pada tahun pertama studi filsafat, hampir semua doa harian tidak memberikan buah rohani. Doa dilalui dengan lalu lalang pemikiran tokoh-tokoh filsafat dan aneka peristiwa hidup sehari-hari. Hidup doa tak seromantis seperti dua tahun di novisiat Girisonta.

Kegalauan itu mulai terjawab ketika tanpa sengaja membuka buku Carlos G. Valles berjudul Unencumbered by Baggage (yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Lepas Bebas, Perjalanan Rohani Anthony de Mello), dan juga Awareness suntingan Francis Stroud. Saya tersadarkan bahwa selama itu saya punya kelekatan terhadap gagasan saya bahwa doa haruslah menghasilkan inspirasi baru, inspirasi segar, dan menentramkan jiwa. Kenyataannya, saya tidak mengalaminya selepas dari novisiat itu.

Naskah selesai dan atas saran Romo Muji Sutrisno saya tawarkanlah naskah itu ke Obor pada tahun 1998, persis beberapa saat setelah notifikasi terhadap Anthony de Mello dikeluarkan oleh Vatikan. Naskah ditolak (juga karena notifikasi itu), tetapi akhirnya diterbitkan oleh Kanisius pada tahun 2001.

Meskipun bahasa yang dipakai di sini bahasa cakap yang sangat santai, materi bahasannya sendiri bukanlah materi yang mudah dicerna bagi pembaca yang tidak memberi kesempatan untuk merefleksikan diri. Tanpa keterbukaan untuk meninjau diri, pembaca akan bingung, dan paling buruk dapat mengalami gangguan berpikir (dan hal ini sudah pernah terjadi menimpa pelajar sekolah menengah). Maka, buku ini saya tujukan bagi orang dewasa yang punya basic untuk merefleksikan hidupnya. Artinya, ia sudah memiliki cukup pengalaman untuk direfleksikan. Jika tidak, ia ada dalam bahaya aneka spekulasi dan barangkali abstraksi yang membuatnya justru semakin kusut.

Kunci yang disodorkan buku ini sebetulnya sangat sederhana: manusia tak bisa mengungkap misteri Allah tanpa masuk ke dalam misteri dirinya sendiri. Oleh karena itu, pengenalan akan Allah justru paling valid dibuat dengan pengenalan Diri sampai ke pusat identitasnya karena di situlah titik perjumpaan Allah dan manusia. Inilah yang saya sebut sebagai AKU (dengan huruf kapital, sebenarnya hanya untuk menerjemahkan subjek I dalam bahasa Inggris) yang terhubung secara njelimet dengan ‘aku’ (terjemahan kata me, my, mine). Artinya, AKU itu tentu pada kenyataannya ‘tidak ada’ sebagaimana garis khatulistiwa juga ‘tidak ada’. Dalam penelitian mutakhir, konon AKU ini adalah I-position sejauh terhubung dengan aneka macam aku (objek, me, my, mine).

ConditioningJika pembaca menangkap pembedaan AKU dan aku (isi dan kulit, nilai dan penampilan, yang langgeng dan yang fana) ini, kiranya seluruh uraian dalam buku ini bisa dipahami dengan mudah: AKU menangkap AKU. Pemahaman ini sulit ditempuh jika AKU masih bersibuk ria dengan ‘aku’: orang berdebat menentukan mangga manis dan kecut dari kulitnya, bukan dari isinya; orang menanamkan dalam dirinya agama yang paling benar bagi semua orang; orang begitu perfeksionis pada efek Powerpoint dan justru tidak begitu peduli pada materi yang hendak disodorkan; orang terpukau pada pendekatan formal dan abai terhadap perjumpaan pribadi, orang berhenti pada penampilan seseorang (entah menurutnya baik atau buruk) dan tidak melihat hatinya (yang memang gak kelihatan sih), orang lebih heboh dengan atribut agama daripada iman yang ditawarkan agama, dan lain sebagainya.

Bagaimana membebaskan AKU dari kungkungan aku? Orang perlu belajar detachment, lepas bebas terhadap objek apa saja yang bisa membantu atau menghalangi seseorang untuk menangkap AKU. Lha piye itu? Dengan kesadaran, katanya… dan ini rawan jadi makanan empuk gerakan New Age yang menarik aneka macam orang, lintas agama, ras, suku, bangsa karena secara individual bisa membawa kedamaian dalam batin orang, tetapi kalau tidak diwaspadai, orang justru tidak connect dengan dunia nyata. Maka di akhir buku digarisbawahi bahwa buku ini juga adalah suatu conditioning yang perlu dilengkapi dengan conditioning2 lainnya supaya orang menjadi utuh jasmani dan rohani…

9 replies

  1. Romo,
    Saya menemukan buku anda secara tak sengaja. Sdh lama spt nya tdk disentuh di rumah mertua.
    Luar biasa romo. Saya bisa memahaminya. Kebetulan saya juga membaca deepak chopra, gede prama, eckhart tolle, thich nath tanh. Ini bbrp penulis yg akhir2 ini saya baca.
    Kok ya saling terkait..juga dg tulisan romo…terkait juga dg injil yohanes..juga injil yg lain..
    Menyimak Yesus dg baik…maka kita akan mengenal AKU.
    Suatu saat nanti ingin berdiskusi dg romo andreas…
    Buku ini apa masih dijual di toko buku ya romo?

    Like

    • Halo Sdr. Diksi A Kustanta, terima kasih atas kunjungannya. Buku ini masih dijual di Kanisius. Syukurlah kalau ditengarai ada koneksi dengan pengenalan akan Yesus. Salam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s